Penggundulan Hutan hingga Konflik Politik, Bencana Kelaparan Kembali Landa Afrika

Bencana Kelaparan Afrika - allafrica.comBencana Kelaparan Afrika - allafrica.com

orang di Afrika yang kelaparan sempat mengalami penurunan selama beberapa tahun. Tetapi, kasus tersebut saat ini sedang ‘naik daun’ dengan sekitar 26 juta orang Afrika menderita kelaparan. Tindakan sembrono manusia seperti penggundulan hutan, , serta konflik menjadi beberapa faktor yang menyebabkan Benua Hitam kembali dilanda bencana kelaparan.

DW melaporkan bahwa 26 juta orang di Afrika yang kelaparan bukan hanya sebatas statistik, melainkan benar-benar terjadi di masyarakat. Seorang gadis kecil yang meninggal di salah satu rumah sakit di Kenya bukan disebabkan oleh kecelakaan atau karena penyakit yang tidak dapat disembuhkan. “Dia meninggal karena belum dalam jangka waktu lama,” tulis salah satu wartawan DW.

Beberapa waktu yang lalu, organisasi bantuan mulai meningkatkan kekhawatiran akan krisis pangan di Afrika. Mereka telah memperingatkan bahwa kekeringan yang meluas dapat menyebabkan salah satu bencana kelaparan terbesar pada dekade terakhir di Afrika dan Yaman. Di Sudan Selatan dan Somalia, dua dengan dampak paling parah, setidaknya 14 juta orang tetap bergantung pada bantuan pangan.

Perubahan iklim dunia memang menjadi salah satu faktor bencana ini. Namun, penggundulan hutan yang dilakukan manusia serta satu sisi membuat hidup semakin sulit bagi para skala kecil di Afrika. Selain itu, konflik politik memiliki konsekuensi lebih buruk lagi, dengan negara-negara yang paling terkena dampak kelaparan seperti Nigeria, Sudan Selatan, dan Somalia terlibat dalam perang saudara atau sedang memerangi teroris.

Di negara-negara tersebut, pemerintah telah gagal menyediakan kebutuhan dasar seperti menyediakan layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Sebagai gantinya, para elit kecil sibuk mengisi kantong mereka sendiri di negara-negara tetangga yang memiliki lebih banyak sumber daya.

Meski begitu, masih ada harapan yang tersisa di tengah krisis ini. Misalnya, setelah lebih dari 20 tahun perang sipil, pada awal 2017 lalu Somalia mendapat pemerintahan baru. Hal ini membuat banyak pengamat menyuarakan optimisme. Selain itu, masih banyak orang yang tumbuh melampaui diri mereka dan tidak menyerah dalam menghadapi kenyataan.

Loading...