Penggunaan Batubara & Minyak Berlebihan, Emisi CO2 Naik 2% di 2018

Penggunaan Batubara Berlebihan - www.industry.co.idPenggunaan Batubara Berlebihan - www.industry.co.id

KATOWICE (POLANDIA) – Emisi karbondioksida (CO2) diklaim meningkat ke titik bersejarah pada 2018 ini, demikian menurut sebuah studi yang dirilis Rabu (5/12) kemarin bersamaan dengan konferensi iklim COP24 di Katowice, Polandia. Bahkan, pada 2100 mendatang, suhu diprediksi akan naik 3 derajat Celcius, akibat penggunaan batubara dan yang merajalela, melampaui batas yang ditetapkan Perjanjian Paris.

“Meningkatnya kadar karbondioksida terutama didorong oleh penggunaan batubara, selain juga oleh meningkatnya penggunaan minyak dalam ,” kata utama, Dr. Corinne Le Quere, dari University of East Anglia di Inggris, dilansir DW. “Hampir semua negara berkontribusi terhadap peningkatan CO2, baik dengan menaikkan atau dengan mengurangi dari yang diharapkan.”

Secara total, emisi global dari bahan bakar fosil diprediksi akan mencapai 37,1 miliar ton CO2 pada tahun 2018 ini, meningkat 2 persen dari tahun sebelumnya. Para peneliti juga memperingatkan bahwa tujuan yang disepakati di Paris pada tahun 2015 lalu hampir tidak mungkin dicapai, dan dunia sedang melihat peningkatan suhu global rata-rata 3 derajat Celcius pada akhir abad ini, jauh di atas apa yang para ahli peringatkan sebagai bencana besar.

Laporan yang sama mencatat 10 penghasil emisi terbesar seperti China, Amerika Serikat, India, Rusia, Jepang, Jerman, Iran, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Kanada, dengan Negeri Tirai Bambu yang meningkat paling cepat. Catatan tersebut menandai tahun kedua peningkatan setelah relatif mengalami jeda dari tahun 2014 hingga 2016.

Meski demikian, beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan 16 negara lainnya telah berhasil mengurangi emisi mereka secara keseluruhan dalam beberapa dekade terakhir. Pada saat yang sama, listrik dari sumber-sumber terbarukan . Para peneliti juga melihat alasan untuk harapan di Amerika Serikat.

“Meski Presiden Donald Trump telah menarik Washington keluar dari Perjanjian Paris, AS sangat imajinatif. Banyak tempat telah terbangun dengan fakta bahwa terbarukan memiliki untuk itu,” ujar Le Quere. “Emisi di AS sebenarnya menurun pada saat ini, terutama karena penurunan besar dalam penggunaan batubara sejak tahun 2005.”

Meski studi ini memuji 15 persen uptick global dalam upaya menggunakan sumber energi terbarukan selama satu dasawarsa terakhir, dikatakan bahwa pemerintah harus bekerja lebih keras untuk memperluas pembangkit listrik ini, dan dengan cepat, untuk mencegah krisis internasional. Pekan lalu, World Meteorological Organization PBB memperingatkan bahwa dunia sedang menuju peningkatan suhu global 3-5 derajat Celcius pada abad ini.

Loading...