Penggunaan AC Meningkat, Permintaan Listrik dan Risiko Emisi Karbon di ASEAN Naik

Penggunaan AC Meningkat - style.tribunnews.comPenggunaan AC Meningkat - style.tribunnews.com

SINGAPURA – Sebagai salah satu tropis, cuaca atau suhu udara di wilayah ASEAN memang cenderung panas. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian banyak yang menggunakan AC (air conditioning) untuk menyejukkan udara di dalam ruangan. Sayangnya, penggunaan AC ini diklaim berisiko menggandakan permintaan listrik pada tahun 2040 mendatang, yang akhirnya meningkatkan risiko emisi karbon.

Seperti dikutip dari , peningkatan penggunaan AC di kalangan masyarakat yang semakin kaya di ASEAN menyebabkan lonjakan permintaan listrik, yang akhirnya mengancam dengan emisi karbon. Hal tersebut dilaporkan oleh Eco-Business Research setelah melakukan survei terhadap lebih dari 400 responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, yang mengeksplorasi listrik yang berlebihan dan dampaknya pada wilayah tersebut.

tersebut mencatat bahwa ketika populasi ASEAN menjadi lebih makmur dan permintaan untuk listrik meningkat, emisi karbon juga naik. Pada tahun 2040 mendatang, permintaan listrik diprediksi bisa naik lebih dari dua kali lipat menjadi 2.000 Terawatt-hours. “Mayoritas penduduk di kawasan ini hidup di daerah perkotaan yang kekurangan vegetasi, menempatkan permintaan lebih lanjut pada pendingin, tulis laporan itu.

Selain itu, sikap konsumen juga membantu penggunaan AC secara berlebihan. Para responden mengatakan bahwa meskipun AC dipandang diperlukan untuk mengatasi iklim panas, itu juga merupakan ‘simbol status di mereka’ karena terkait erat dengan standar kemakmuran, dan Indonesia memiliki permintaan AC paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

“Untuk menghemat energi, Indonesia harus mengatasi tantangan perilaku,” kata Dosen Teknik Elektro di Universitas Cenderawasih, Herbert Innah. “Kebanyakan orang Indonesia tidak mengerti bagaimana mengoperasikan AC dan kurang kesadaran akan pentingnya penghematan energi. Jika mereka ingin menggunakan ruang untuk pertemuan, mereka sudah menyalakan AC sehari sebelumnya.”

Meski demikian, tingkat emisi karbondioksida yang tinggi bisa ‘berkurang secara signifikan’ dengan mengadopsi teknologi yang lebih baik. Di Indonesia sendiri, konsumen dapat menghemat hampir 690 juta AS per tahun pada tahun 2030 dengan lebih meningkatkan efisiensi energi AC. “Jika negara-negara ASEAN beralih ke dan pencahayaan yang hemat energi, mereka dapat mengurangi konsumsi listrik mereka hingga 100 (Terawatt-hours) dengan menghemat 12 miliar dolar AS setiap tahun,” katanya.

Loading...