Penggerebekan Beras Maknyuss: Media Online Pro, Media Sosial Kontra

Beras - pontianak.tribunnews.comBeras - pontianak.tribunnews.com

Dalam beberapa hari terakhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan penggerebekan gudang Maknyuss dan Ayam Jago milik PT Indo Beras Unggul karena dianggap membohongi publik dan merugikan negara hingga ratusan juta rupiah. Nah, jika cenderung pro dengan tindakan petugas, maka netizen justru banyak yang kontra dengan penggerebekan tersebut.

“Di media sosial, khususnya di Twitter, percakapan tentang beras ini memperlihatkan polarisasi pro dan kontra,” papar Ismail Fahmi, co-founder Awesometrics, dalam ulasan di laman -nya. “Kata kunci ‘maknyuss’ dapat digunakan, namun hasilnya hanya spesifik yang mengandung maknyuss saja. Tetapi, jika menggunakan kata kunci ‘beras’, kita akan mendapatkan percakapan yang lebih banyak dengan konteks yang masih sama.”

Dalam ulasannya, Ismail melanjutkan bahwa di antara mereka yang pro penggerebekan, terdapat akun @DennySiregar7, @TolakBigotRI, @STNatanegara, @Rustamibrahim, @TodungLubis, dan tentu saja akun pemerintah, @kementan dan @gopetani. Namun, cluster pro ini sangat kecil jika dibandingkan dengan cluster yang kontra.

“Mereka yang pro, ternyata sebagian besar mengaitkan isu ini dengan PKS, karena ada tokoh PKS di dalam jajaran komisaris perusahaan beras merek Maknyuss,” sambung Ismail. “Isu ini pun lantas dimanfaatkan untuk menyerang partai tersebut.”

Sementara, untuk yang kontra, mereka melihat penggerebekan ini sebagai bentuk perang dagang, persaingan , yang memanfaatkan aparatur negara. Mereka, menurut Ismail, menunjukkan beberapa pernyataan aparat yang tidak logis, seperti kerugian negara yang mencapai ratusan triliun rupiah, tidak bolehnya menjual beras dengan yang lebih mahal, dan lain-lain.

“Pada cluster yang kontra, terdapat akun seperti @saididu, @maspiyuu, @Ronin1948, @CondetWarrior, dkk,” sambung Ismail. “Di antara mereka, @saididu paling banyak mendapatkan retweet. Dia menulis kultwit yang menjelaskan pendapatnya mengenai beras, subsidi, HPP, dll. Tampaknya, penjelasan yang cukup komprehensif ini memberi pengaruh yang cukup besar dalam percakapan, dan juga sebagian berita di media.”

Jika media sosial banyak yang kontra mengenai kasus tersebut, maka media online justru lebih cenderung pro pada tindakan aparat. Banyak dari mereka yang memberitakan tentang pernyataan dari aparat proses hukum dan penyelidikan, jatuh bebasnya perusahaan, hingga menggunakan istilah ‘beras oplosan’ untuk memberi label negatif pada merek Maknyuss.

“Jika media sosial banyak yang menyebutkan bahwa para ibu memborong beras Maknyuss, sebaliknya di media online lebih cenderung mengabarkan kalau beberapa pedagang menolak dan mengembalikan beras tersebut ke distributor,” lanjut Ismail. “Karenanya, membaca media sosial dan membaca media online akan memberikan persepsi yang berbeda.”

Loading...