Ibukota Indonesia Pindah, Pengembang Berlomba Tawarkan Properti di Kaltim

JAKARTA – Presiden Indonesia, Joko Widodo, baru saja mengumumkan Provinsi Kalimantan Timur sebagai baru ibukota . Para pengembang langsung merespon keputusan tersebut dengan bergegas menawarkan peluang di apartemen dan kompleks komersial di kawasan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, tempat ibukota baru ditetapkan.

Seperti dilansir dari Nikkei, sehari setelah Presiden Jokowi mengumumkan rencananya untuk memindahkan ibukota Indonesia, pengembang property, Agung Podomoro Land, langsung memasang iklan satu halaman penuh di sebuah surat kabar nasional yang menawarkan peluang investasi di apartemen baru dan kompleks komersial di Kaltim. “Borneo Bay City, resor kelas dunia, investasi terbaik di ibukota baru di Kalimantan Timur,” demikian bunyi iklan tersebut.

pun menambahkan bahwa ‘superblock’ akan terdiri dari menara apartemen mewah, hotel bintang lima, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Selanjutnya, itu akan ‘berlokasi strategis’, sekitar 20 menit berkendara dari ibukota masa depan. saham Agung Podomoro Land lantas naik 8% pada hari yang sama.

Beberapa eksekutif bisnis memang diliputi euforia sejak Jokowi mengakhiri spekulasi dan mengumumkan ibukota baru. Langkah prospektif ini akan memberikan keuntungan langsung kepada pengembang properti dan perusahaan konstruksi yang sudah beroperasi di Kalimantan Timur serta bagi pemain yang berpotensi untuk mengambil bagian dalam pengembangannya.

Saham PP Properti, cabang pengembangan properti perusahaan konstruksi milik negara Pembangunan Perumahan, melonjak hampir 18% pada hari Selasa (27/8). Sehari sebelumnya, Presiden Direktur PP Properti, Taufik Hidayat, mengatakan perusahaannya memiliki hotel dan pusat perbelanjaan di Balikpapan, kota terbesar di Kalimantan Timur.

“Kami sudah mulai (berencana) untuk mengembangkan lebih banyak properti di 500 hektar lahan,” kata Hidayat kepada wartawan tak lama setelah pengumuman Jokowi. “Sejak empat bulan lalu, kami telah mempelajari peluang potensial dari rencana relokasi, untuk fokus pada (apa) langkah yang harus diambil.”

Saham Bumi Serpong Damai, pengembang properti besar lainnya dan bagian dari Grup Sinar Mas, juga meningkat. Perusahaan ini diketahui memiliki lebih dari 5 km persegi tanah di Kalimantan Timur, dibagi antara Balikpapan dan Samarinda, ibukota provinsi. Kedua kota tersebut juga berlokasi dekat dengan ibukota masa depan.

Perusahaan konstruksi milik negara Wijaya Karya, atau Wika, juga senang dengan rencana relokasi. Dikatakan Direktur Utama Wika, Tumiyana, pihaknya sudah mempersiapkan sejak awal untuk mengembangkan modal baru, di sisi konstruksi dan sisi keuangan. “Wika terlibat dalam membangun jalan tol 99 km yang akan dibuka pada Oktober, yang menghubungkan Balikpapan dan Samarinda,” katanya.

pengembangan untuk ibukota baru diperkirakan Rp466 triliun . Sebagian besar uang itu, yang diperkirakan Rp265 triliun, akan digunakan untuk pembangunan perumahan, sekolah, rumah sakit, dan distrik komersial. Sementara, infrastruktur dasar diperkirakan mencapai Rp156 triliun rupiah, dan sekitar Rp33 triliun rupiah untuk pembangunan kantor-kantor pemerintah, termasuk istana presiden yang baru, gedung DPR, dan markas besar polisi dan militer nasional.

David Sumual, kepala ekonom di Bank Central Asia, mengatakan bahwa sektor-sektor seperti konstruksi dan , keuangan, alat berat, dan makanan dan minuman akan mendapat manfaat paling besar dari ‘efek putaran pertama’ dari 2020 hingga 2025. Banyak analis meramalkan bahwa hingga 500.000 pekerjaan akan dibuat selama periode ini.

“Relokasi akan menciptakan efek berganda yang akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia,” kata Sumual. “Di tingkat nasional, relokasi modal akan menambah 2% ke proyeksi pertumbuhan dasar antara 2020 hingga 2030. Kalimantan, khususnya, akan menikmati pertumbuhan 8,5% tambahan dari proyeksi dasar, dan Jawa sekitar 1,5%.”

Terlepas dari semua tepuk tangan untuk relokasi modal, beberapa kalangan bisnis telah menyatakan keprihatinan, termasuk Kowantara, sebuah komunitas untuk warteg, atau restoran kecil milik pribadi di pinggir jalan, yang merupakan makanan pokok kehidupan sehari-hari di Jakarta. Ia merilis sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa pihaknya menolak rencana untuk memindahkan ibukota.

Meskipun Kowantara mengutip hambatan ekonomi makro, seperti usaha kecil yang berjuang karena daya beli konsumen surut, ketidaksetujuan tersebut kemungkinan besar didasar ketakutan akan kehilangan pelanggan karena pejabat pemerintah dan lainnya pindah ke pulau lain. Sementara pemilik restoran kecil-kecilan takut akan nasib ini, perusahaan-perusahaan besar sedang mempersiapkan diri mereka sendiri.

Loading...