Pengaruh Dolar Masih Mendominasi Rupiah di awal 2015

Rupiah turun anjlok selama 2 minggu berturut-turut akibat iklim perbaikan ekonomi di Serikat. Klaim pengangguran di Serikat berkurang secara signifikan sepanjang tahun 2014. Di sisi lain, Indeks Penjualan Rumah di Serikat meningkat pada 2014 melampaui perkiraan para Analis Ekonomi. Sementara itu, di Indonesia terjadi percepatan laju Inflasi yaitu mencapai 8,4% pada bulan Desember 2014, meningkat dari inflasi bulan sebelumnya yaitu sebesar 6,2%. Catatan penurunan aktifitas pada bulan November juga merupakan yang terparah sejak 2012 “Kenaikan Dolar sebagian besar didorong oleh adanya data penjualan rumah pada bulan November ” kata Saktiandi Supaat, Kepala Riset Valas Malayan Banking Bhd. Di Singapura. “Ada kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada semester pertama 2015. ” Lanjut Saktiandi.

Rupiah melemah sebesar 1,3%, merupakan yang terbesar sejak 15 Desember 2014, yakni berada di titik Rp 12.543/USD di Jakarta. Rupiah mengalami kemunduran sebanyak 0,6% untuk minggu ini saja. Nilai ekspor Indonesia turun hingga 14,6% pada November lalu dan merupakan penurunan terbesar sejak Agustus 2012. Sedangkan nilai yang dikontrak adalah sebesar 7,3%, sehingga Indonesia menderita defisit perdagangan sebesar USD 426 Juta.

Di pasar luar negeri, untuk 1 bulan ke depan nilai non-deliverable turun sebesar 1,5% menjadi 12.670. menetapkan suku bunga yang digunakan untuk menyelesaikan kontrak pada posisi 12.474 pada hari Jumat lalu (2/1). Sementara untuk Hasil obligasi menurut Inter Dealer Market Association, akan turun 1 basis poin atau 0,01 persen poin menjadi 7,81%.

Loading...