Pengaruh Dolar Masih Mendominasi Rupiah di awal 2015

Rupiah turun anjlok terdepresiasi selama 2 minggu berturut-turut akibat iklim perbaikan ekonomi di Amerika Serikat. Klaim pengangguran di Amerika Serikat berkurang secara signifikan sepanjang tahun . Di sisi lain, Indeks Rumah di Amerika Serikat meningkat pada November melampaui perkiraan para Analis Ekonomi. Sementara itu, di Indonesia terjadi percepatan laju Inflasi yaitu mencapai 8,4% pada bulan , meningkat dari inflasi bulan sebelumnya yaitu sebesar 6,2%. Catatan penurunan aktifitas pada bulan November juga merupakan yang terparah sejak 2012 “Kenaikan sebagian besar didorong oleh adanya data penjualan rumah pada bulan November ” kata Saktiandi Supaat, Kepala Riset Valas Malayan Banking Bhd. Di Singapura. “Ada kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada semester pertama 2015. ” Lanjut Saktiandi.

Rupiah melemah sebesar 1,3%, merupakan yang terbesar sejak 15 Desember 2014, yakni berada di titik Rp 12.543/USD di Jakarta. Rupiah mengalami kemunduran sebanyak 0,6% untuk minggu ini saja. Nilai ekspor Indonesia turun hingga 14,6% pada November lalu dan merupakan penurunan terbesar sejak 2012. Sedangkan nilai Impor yang dikontrak adalah sebesarĀ 7,3%, sehingga Indonesia menderita defisit perdagangan sebesar USD 426 Juta.

Di luar negeri, untuk 1 bulan ke depan nilai non-deliverable turun sebesar 1,5% menjadi 12.670. menetapkan suku bunga yang digunakan untuk menyelesaikan kontrak pada posisi 12.474 pada hari Jumat lalu (2/1). Sementara untuk Hasil obligasi negara menurut Inter Dealer Market Association, akan turun 1 basis poin atau 0,01 persen poin menjadi 7,81%.

Loading...