Pendukung Pemerintah Ubah Berita Inovasi Pengolah Limbah Tinja Menjadi ‘Serangan’

Media sosial - style.tribunnews.comMedia sosial - style.tribunnews.com

Media yang ‘bebas’ memang menjadi salah satu sarana empuk, tidak hanya untuk menyebarkan palsu atau hoax, melainkan juga menyebar serangan kepada lawan , terutama mendekati pemilu. Paling baru, sebuah cluster yang diklaim kepunyaan pendukung menanggapi sebuah anak bangsa tentang pengolahan limbah untuk masalah bersih di DKI dengan cara menarik, mengubah sinyal menjadi noise (serangan).

Dikutip dari akun milik Ismail Fahmi, founder Media Kernels , permasalahan dimulai ketika warganet (netter) menanggapi sebuah artikel di Kompas dengan judul ‘DKI Kini Bisa Ubah Limbah Tinja Jadi Air Minum dalam Setengah Jam’. Dengan memonitor kata kunci ‘tinja’, ‘jamban’ dan difilter dengan ‘DKI’, ‘Jakarta’, ‘Sandiaga’, ‘pengolah’, minum, banyak warganet yang ternyata beranggapan kalau air hasil olahan ini nantinya untuk ‘air minum warga DKI Jakarta’.

“Sabar sabar… Rumah DP 0 persen masih belum jadi. Sementara minum air tinja dulu ya…” tulis akun Dennysiregar7. Sementara, akun permadiaktivis menuliskan “warga Jabar dapat bandara baru, warga DKI dapat air sulingan dari tinja” ditambahi hashtag #HaturNuhunJokowi. Akun Airin_NZ menambahkan, “Air limbah tinja mau diolah menjadi air minum… Seketika 1 DKI mulutnya pada bau Tokai… Kayak mulut ‘orang2’ yang duduk di Senayan.”

Anggapan ini berdasarkan dari headline berita yang diambil dari Kompas. Jika hanya melihat judul-judul yang dibuat media mainstream ini, memang mereka tidak salah. Namun, para warganet lupa atau tidak ‘mengunyah’ paragraf terakhir yang menuliskan ‘Saya berharap akan menghasilkan 50 meter kubik per hari untuk menyirami 9 hektar lahan hijau dan dua yang ada di sekitar wilayah sini. Mangga, timun suri, pepaya, tadi singkong juga bisa diairi di sini’.

“Jika ini dilakukan oleh warganet biasa, tentu tidak terlalu masalah. Tetapi, dari peta SNA, tampak narasi negatif ini secara masif dan aktif dilakukan oleh sebuah cluster yang dikenal sebagai pendukung pemerintah, dengan tingkat interaksi yang tinggi,” jelas Ismail. “Alih-alih mengubah noise menjadi sinyal, ini malah sebaliknya, mengubah sinyal menjadi noise.”

Ismail menambahkan, mendekati tahun 2019, bukan hanya presiden yang harus punya prestasi baik dan membangun citra baik, namun para pendukungnya juga perlu menunjukkan kemampuan menjadi ‘telinga’ bagi pemerintah. Bukan malah sebaliknya, menjadi ‘buzzer’ atau pembuat bising. “Mereka harus membangun citra positif, sehingga publik merasa tenang dan senang bahwa pendapat publik akan didengar oleh para pendukung ini, dan diteruskan kepada pemerintah,” tutup Ismail.

Loading...