Peminat Naik, Ini Harga Kedelai Lokal per Kg

Harga, kedelai, impor, lokal, naik, tinggi, petani, penjualan, konsumen, harga pembelian pemerintah, HPP, pembelian, stok, pengusaha, tahu, tempe, pasokan, susu, kedelai, keuntungan, kualitas, sentra, produksi, per, kg, komoditas, pengrajin, permintaan, penyebab, pebisnisIlustrasi: butir-butir kedelai lokal

jual impor kembali turun menjadi Rp7.100 per kilogram dibandingkan harga jual sebelumnya mencapai Rp7.300/kg, meskipun nilai tukar rupiah cenderung melemah, kata Ketua Primer Koperasi Tahu-Tempe (Primkopti) Kabupaten Kudus Amar Ma’ruf.

Namun, harga jual kedelai impor tersebut, kata dia, masih tergolong tinggi karena sebelumnya sempat mencapai Rp6.000-an per kilogramnya. Oleh karena harga jual kedelai impor sejak beberapa bulan terakhir mencapai Rp7.000-an, kata dia, permintaan kedelai akhirnya tidak sampai berpengaruh signifikan. Permintaan rata-rata per hari, kata dia, berkisar antara 15 ton hingga 20-an ton kedelai.

Dengan kondisi seperti sekarang, dia mengaku, tidak bisa memastikan apakah harga jual kedelainya akan kembali turun atau tidak karena beberapa kali terjadi pelemahan nilai tukar rupiah, harga jual kedelai impor justru turun. “Bagi konsumen yang menginginkan kedelai dengan harga lebih murah, saat ini juga tersedia kedelai lokal,” ujarnya.

kedelai lokal mu­lai bergerak pada ­sejumlah sentra produksi tahu dan tempe di Jawa Barat. kedelai lokal diklaim cukup ­di­minati juga oleh para perajin tahu, tempe, dan susu kedelai saat kedelai impor ­harganya tinggi mengikuti kurs dolar yang terus melambung.

Wakil Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) Jawa Barat Muchlis Anwar, di Bandung, Jumat 7 September 2018 mengatakan, walau pe­minat kedelai lokal naik, hambatannya adalah dari segi pasokan. Ke­nya­taannya, fenomena keberadaan ke­delai lokal pada beberapa daerah sangat terbatas dibandingkan dalam kelompok komoditas pajale (padi, jagung, dan kedelai).

”Untuk itu, kami mendesak dan memohon Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan sejumlah kabupaten yang menjadi sentra produksi, dapat bersungguh-sungguh meng­ajak para agar mau bercocok kedelai. Soalnya, kebutuhan kedelai lokal tidak akan henti-hentinya dan terus dibutuhkan oleh para konsu­men,” ujar Muchlis Anwar.

Menurut dia, kontinuitas pasokan kedelai lokal kondisinya mendesak, apalagi kondisi kini konsisten yang terus menerus terjadi pe­lemahan terhadap rupiah. Akibatnya, har­­­ga kedelai impor terus meninggi yang memberatkan para konsumen.

Disebutkan, ketersediaan kedelai lokal sangat terbatas di Jawa Barat, akibat ketergantungan konsumen pada kedelai impor masih tinggi. Usaha produksi kedelai lo­kal pun harus ditunjang hasil usaha yang rasional baik bagi para petaninya.

Dikatakan pula oleh Muchlis Anwar, salah satu penyebab masih rendahnya pasokan kedelai lokal adalah harga beli kepada pe­tani oleh sejumlah pebisnis. Harga kedelai lokal umumnya masih di harga kisaran Rp 2.000-Rp 2.500/kg, walau ada harga pembeli­an pemerintah (HPP) kedelai lokal terakhir pada harga di petani Rp8.500/kg dan acu­an penjualan di konsumen Rp 9.200/kg, se­dangkan kedelai impor acuan di petani Rp 6.550/kg dengan acuan penjualan di konsumen Rp 6.800/kg mengacu Per­men­dag Nomor 27 Tahun 2017.

Pada sisi lain pula, menurut dia, kedelai lokal sampai kini masih harus tetap dicampur dengan kedelai impor hanya untuk menjaga kualitas hasil. Sudah hal biasa, kedelai lokal sampai kini umumnya masih dijadikan pencampur dengan kedelai impor agar ada mar­gin keuntungan untuk produksi tahu, tempe, dan susu kedelai.

Untuk stok kedelai impor saat ini berjumlah 60 ton, sedangkan stok kedelai lokalnya berkisar 9 ton. pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Kudus diperkirakan mencapai 300-an pengusaha yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Kecamatan Kota, Jekulo, Kaliwungu, Dawe, Bae, Gebog, Undaan, Mejobo dan Jati.

Loading...