Pemilu AS, Wanita Muslim dan Orang Pribumi Tembus Kursi Kongres

Rashida Tlaib - www.republika.co.idRashida Tlaib - www.republika.co.id

WASHINGTON – paruh waktu AS yang diadakan pada tanggal 6 November 2018 kemarin menghasilkan beberapa baru dalam . Untuk pertama kalinya, dua Muslim terpilih menjadi Kongres AS. Hal tersebut terjadi saat retorika anti-Muslim (sering disebut dengan Islamophobia) merajalela di seluruh Negeri Paman Sam dan banyak di dunia.

Seperti dikutip dari Upworthy, utusan Demokrat, Rashida Tlaib (berusia 42 tahun), terpilih menjadi anggota Kongres AS setelah memenangkan pemilu di Distrik Michigan. Wanita keturunan Palestina-Amerika itu bersanding dengan Ilhan Omar (berusia 36 tahun) yang berhasil menembus Kongres AS dari daerah pemilihan Minnesota, dengan mengungguli Jennifer Zielinski dari Republik.

Omar akan menjadi anggota Kongres AS pertama yang mengenakan jilbab, legislator Somalia-Amerika pertama, dan wanita berkulit berwarna pertama yang mewakili Minnesota di Kongres. Wanita yang juga pengungsi Somalia tersebut akan menggantikan posisi Keith Ellison, anggota parlemen Demokrat yang juga seorang Muslim.

“Mereka menentang ide-ide seperti apa yang seharusnya terlihat oleh wanita Muslim, dan saya pikir orang akan terus terpesona oleh mereka,” ujar Wa’el Alzayat, CEO Emgage, nirlaba yang mendukung keterlibatan Muslim AS. “Mereka membawa perspektif, pengalaman, dan visi tertentu ke Kongres, yang didominasi pria kulit putih, dan itu adalah inti pemilihan orang-orang seperti mereka.”

Sementara itu, di bagian barat, Deb Haaland juga membuat sejarah setelah menjadi wanita pribumi Amerika pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS. Haaland mengalahkan utusan Partai Republik, Janice Arnold-Jones, untuk memenangkan pemilihan di Distrik New Mexico. Haaland sendiri adalah anggota suku Laguna Pueblo, yang namanya berasal dari danau kecil di New Mexico.

Seperti diprediksi oleh , Partai Demokrat memenangkan mayoritas kursi di Kongres, sedangkan Senat masih menjadi milik Partai Republik. Meskipun memenangkan mayoritas kursi Kongres, namun Partai Demokrat gagal membuat efek ‘gelombang biru’ karena selisih perolehan kursi dengan Partai Republik tidak terpaut jauh.

Loading...