Kasus COVID-19 Terus Naik, Pembukaan Ekonomi Indonesia Terlalu Dini

Pembukaan Ekonomi Indonesia saat Kasus COVID-19 Terus Naik - voi.idPembukaan Ekonomi Indonesia saat Kasus COVID-19 Terus Naik - voi.id

JAKARTA – Indonesia sekali lagi menjadi hot spot penyebaran COVID-19 di , menyalip Singapura. Hingga Rabu (17/6), ada 1.031 kasus tambahan, sehingga total kasus virus corona menjadi 41.431, sedangkan Singapura mengalami peningkatan menjadi 41.216 kasus. Dengan kondisi seperti ini, para memperingatkan bahwa mungkin terlalu dini untuk membuka kembali .

Dilansir dari Nikkei, penambahan kasus virus corona rata-rata sekitar 880 kasus harian sejak awal Juni lalu, dan sekarang memiliki kasus paling banyak di Asia Tenggara. Negara ini memiliki total 2.276 kematian, dibandingkan dengan 26 milik Singapura. “Ini merupakan konsensus di antara para ahli epidemiologi di Indonesia bahwa negara bahkan belum mencapai puncak gelombang pertama,” ujar ahli epidemiologi di Universitas Airlangga Surabaya, Laura Navika Yamani.

Sejak awal kasus virus corona dilaporkan awal Maret lalu, negara memang tidak memberlakukan lockdown nasional, tetapi daerah telah memberlakukan batasan sosial mereka sendiri, yang dikenal sebagai PSBB, mulai pertengahan April. Sayangnya, dengan jutaan orang kehilangan dan mewaspadai lonjakan kemiskinan, Indonesia perlahan mencoba untuk kembali ke bisnis seperti biasa.

Di Jakarta, kantor dan restoran pinggir jalan telah diizinkan untuk beroperasi kembali, meskipun dengan langkah-langkah sosial yang ketat, sementara pusat perbelanjaan membuka kembali pintu mereka pada hari Senin (15/6) dengan yang dikurangi. Pemerintah bahkan menyusun rencana untuk memulai kembali perjalanan reguler ke dan dari China, Korea Selatan, Jepang, dan Australia, empat negara yang sangat penting bagi Indonesia dalam hal investasi dan pariwisata.

Dampak ekonomi dari pandemi ini membuat Indonesia membuat ekspansi paling lambat sejak 2001 dalam tiga bulan pertama tahun 2020. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pada hari Selasa (16/6) bahwa ia memprediksi ekonomi berkontraksi 3,1% pada kuartal kedua. “Dengan (perlambatan) pertumbuhan kuartal kedua yang sangat berat, mempertahankan (tingkat pertumbuhan positif untuk 2020) akan sangat menantang,” katanya.

Sementara kasus COVID-19 Singapura baru-baru ini sebagian besar terbatas pada perumahan yang penuh dengan pekerja migran, coronavirus terdeteksi di semua lapisan masyarakat di seluruh Indonesia. Jakarta memang terus memiliki jumlah kasus terkonfirmasi terbesar, menyumbang sekitar 23% dari total , tetapi Jawa Timur, yang meliputi Surabaya, kini menyumbang 20,5%. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan bahwa peningkatan kasus yang cepat disebabkan oleh peningkatan pengujian.

Rumah sakit di Jawa Timur, serta di daerah lain yang menerima pasien COVID-19, telah meningkatkan keamanan dalam beberapa hari terakhir karena keluarga orang yang diduga meninggal akibat virus tersebut mencoba mengambil pasien yang meninggalkan dan memberi mereka prosesi penguburan ‘normal’. Setidaknya, enam kasus telah dilaporkan ke polisi, empat di Makassar, satu di Surabaya, dan satu di wilayah Bekasi.

“Alasan mengapa keluarga mencoba untuk mengambil mayat saudara mereka secara paksa adalah karena sering ketika orang tersebut meninggal, tidak ada kepastian apakah jenazah itu positif COVID-19 atau tidak,” jelas Brigadir Jenderal Awi Setiyono, Kepala Markas Besar Kepolisian Nasional Biro Informasi. “Pasien kadang-kadang meninggal sebelum hasil tes mereka muncul, yang biasanya memakan waktu sekitar satu minggu di bawah skema pemerintah.”

Kepolisian sendiri telah mengeluarkan surat kepada pihak berwenang untuk mendorong rumah sakit melakukan swab test dan tes PCR pada pasien yang meninggal dunia. Pasien dapat dimakamkan dalam ritual keagamaan masing-masing jika terbukti negatif, tetapi pemakaman masih harus memperhatikan protokol kesehatan.

Loading...