Pelemahan Ringgit Pukul Sektor Manufaktur Malaysia

HONG KONG – Aktivitas terpukul selama bulan akibat turunnya konsumen dan juga melemahnya nilai tukar . Sementara, pergolakan dalam negeri juga membuat indeks di India dan Korea Selatan mengalami penurunan sepanjang November 2016.

Menurut Nikkei Manufacturing Purchasing Manager’s Index, PMI Malaysia berada di angka 47,1 pada bulan November, turun sekitar 0,1 poin dari bulan sebelumnya, sekaligus penurunan secara 20 bulan beruntun. Dari semua metrik, pesanan baru memburuk yang berakibat produsen mengurangi produksi mereka, sebuah tren yang sudah berlangsung sejak April 2015.

“Untuk saat ini, perlambatan sektor manufaktur di Malaysia sebagian besar disebabkan permintaan yang anjlok,” papar Ekonom di Kenanga Investment Bank, Wan Suhaimie. “Kecuali AS, permintaan konsumen di negara berkembang dan maju mengalami tren penurunan.”

Kondisi ini diperburuk dengan nilai tukar ringgit yang jatuh hingga 6,5 persen terhadap dolar AS selama bulan November, sekaligus penurunan terbesar sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1997 lalu. “Perusahaan dibebani dengan biaya bahan baku yang lebih besar karena melemahnya nilai tukar ringgit,” ujar Ekonom di HIS Markit, Amy Brownbill.

Karena tingginya tingkat investasi asing di obligasi Malaysia, lonjakan yang terjadi pada imbal hasil US Treasury baru-baru ini membuat ringgit mengalami kemerosotan paling dalam dibandingkan mata uang negara ASEAN lainnya. Lonjakan imbal hasil ini didorong oleh ekspektasi kenaikan AS, serta belanja fiskal Presiden AS terpilih , Donald Trump, dan kebijakan proteksionis.

Sementara itu, di India, aktivitas industri negara tersebut mengalami perlambatan menjadi 52,3 pada bulan November, sekaligus membalikkan momentum yang diperoleh pada bulan sebelumnya. Output dan pesanan baru turun, masing-masing 3,4 dan 4,4 poin, dari bulan sebelumnya karena produsen kekurangan kas untuk mengatasi permintaan yang lebih tinggi, baik dari domestik maupun luar negeri.

Salah satu penyebab merosotnya PMI India adalah dampak negatif demonetization yang dicetuskan Perdana Menteri Narendra Modi sejak 8 November lalu. “Penjualan yang merosot mungkin akan menghasilkan stok yang lebih banyak sehingga dapat memicu pengurangan produksi yang cukup signifikan di bulan depan,” papar Ekonom di Nomura, Sonal Varma.

Bergerak ke Korea Selatan, PMI negara tersebut turun ke angka 48 pada bulan November, sekaligus penurunan selama empat bulan secara beruntun. Pemogokan pekerja, penghentian penjualan smartphone Galaxy Note 7 oleh Samsung, dan rencana Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye untuk mengundurkan diri telah membebani sektor industri Negeri Ginseng.

Loading...