Pelemahan Masih Mengintai Rupiah Pada Perdagangan Hari Ini

Meski mampu menguat pada perdagangan awal pekan kemarin (9/5), namun pelemahan masih mengintai laju rupiah. Pasalnya, masih adanya negatif dari rilis jelang libur panjang yang di bawah perkiraan pasar, serta kemungkinan imbas melemahnya data ekspor China yang melemahkan yuan juga bisa membuat rupiah terimbas efek negatif.

Menurut laporan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini (10/5) dengan dibuka melemah 18 poin atau 0,14% ke 13.332 per dolar AS. Kemudian, mata Garuda kembali 16 poin atau 0,12% ke posisi Rp13.330 per dolar AS pada pukul 08.21 WIB.

“Masih adanya negatif dari rilis Indonesia jelang libur panjang yang di bawah perkiraan pasar, serta kemungkinan imbas melemahnya data ekspor China yang melemahkan yuan juga bisa membuat rupiah terimbas efek negatif,” papar Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada. “Selain itu, terbatasnya penguatan yen usai dirilisnya rencana Menteri Keuangan Jepang yang akan mengintervensi yen jika volatilitas tinggi juga membuat dolar AS menguat.”

Senada, Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menilai bahwa penguatan rupiah yang terjadi kemarin karena imbas buruknya data tenaga kerja AS akhir pekan lalu. “Padahal dari sisi domestik, beban negatif justru dipikul rupiah usai angka pertumbuhan ekonomi merosot,” ujarnya.

“Penguatan rupiah pada hari ini bisa terjadi jika inflasi China stagnan pada posisi 2,3%” sambung Josua. “Jika merosot, mata Asia, termasuk rupiah, ikut terseret beban negatif.”

Josua memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.200 hingga Rp13.350 per dolar AS. Sementara, Reza meramal mata Garuda ada di level support Rp13.295 per dolar AS dan resisten Rp13.278 per dolar AS.

Loading...