Lockdown Covid-19, Pelecehan Seksual terhadap Anak Meningkat

Pelecehan Seksual terhadap Anak - www.republika.co.idPelecehan Seksual terhadap Anak - www.republika.co.id

Melbourne/Manila – Untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, banyak yang memberlakukan sistem lockdown dan mewajibkan dilakukan dari rumah, termasuk sekolah. Sayangnya, bukannya aman berada di rumah, anak-anak justru mendapatkan pelecehan seksual secara online dari para ‘predator dewasa’, baik melalui , platform permainan, hingga website gelap.

Dikutip dari TRT World, para aktivis pada hari Rabu (2/12) menuturkan bahwa dari daerah kumuh di Filipina hingga pinggiran Australia, kejahatan lintas batas telah menjamur karena pelanggar memanfaatkan penutupan sekolah dan lockdown untuk menjangkau anak-anak. Di Australia misalnya, polisi federal menerima lebih dari 21.000 laporan pelecehan seksual terhadap anak dalam 12 bulan hingga 30 Juni kemarin, meningkat lebih dari 7.000 kasus pada tahun sebelumnya.

“Beberapa dari web gelap itu benar-benar mogok karena tidak dapat mengatasi jumlah trafik,” kata Inspektur Detektif Polisi Federal Australia, Paula Hudson. “Kami secara langsung menghubungkan arus masuk yang luar biasa kepada pelanggar dan anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah karena lockdown dan penutupan sekolah, dengan anak-anak sering dibiarkan tanpa pengawasan orang tua.”

Sementara itu, Filipina menuturkan ada peningkatan hingga 260 persen dalam laporan materi pelecehan anak secara online dari Maret hingga Mei 2020, ketika negara itu dikunci ketat, demikian kata UNICEF. “Penguncian Covid-19 menciptakan badai sempurna untuk meningkatkan eksploitasi seksual online terhadap anak-anak,” jelas John Tanagho dari International Justice Mission di Manila.

Di Indonesia, sekitar 20 persen anak yang disurvei ECPAT, sebuah LSM internasional yang bekerja untuk mengakhiri eksploitasi anak, melaporkan perilaku predator secara online. Polisi di Provinsi Jawa Barat baru-baru ini menemukan sebuah grup di aplikasi perpesanan populer LINE yang memfasilitasi ‘pertunjukan telanjang langsung’, termasuk beberapa anak di bawah umur.

Di antara mereka adalah seorang gadis berusia 14 tahun yang diyakinkan untuk melakukan pertunjukan telanjang, ketika orang tuanya mengira dia sedang mengerjakan tugas secara online di kamarnya. “Para orang tua harus lebih berhati-hati dalam memantau aktivitas online anak-anak mereka karena hanya perlu beberapa menit bagi mereka untuk menjadi pelaku atau korban kejahatan online,” kata Komisaris Polisi Teuku Arsya Khadafi.

Mantan polisi Australia, Glen Hulley, di organisasi anti- manusia Project Karma, mengatakan bahwa para pedofil juga ‘melewati’ orang tua dengan menggunakan platform permainan atau game online. Aktivis telah melaporkan orang dewasa berpura-pura menjadi teman sebaya, YouTuber terkenal, atau bahkan pesohor seperti Justin Bieber.

“Apa yang paling banyak kami temukan selama periode lockdown ini adalah bahwa pelaku mencoba menjangkau anak-anak di aplikasi populer, seperti platform game online dengan fitur chat,” katanya. “Begitu interaksi awal dimulai, mereka meminta target untuk mengobrol di platform lain sehingga mereka bisa berhubungan tanpa ada gangguan dari permainan.”

Tidak hanya anak-anak di negara berkembang yang mengalami pelecehan seksual. Dalam beberapa bulan terakhir, polisi Australia menangkap 15 pria yang dituduh memproduksi atau membagikan materi pelecehan anak secara online dan mengidentifikasi 46 tersangka korban, termasuk 16 di satu pusat penitipan anak. Umur korban berkisar antara 16 bulan sampai 15 tahun, dengan usia rata-rata delapan tahun.

Tanagho menambahkan, eksploitasi seksual online terhadap anak-anak adalah ‘kejahatan atas peluang’ yang didorong oleh permintaan dari para pelanggar seks. Dengan hilangnya pekerjaan dan pendapatan serta lebih banyak waktu dihabiskan di rumah, di Filipina banyak korban justru pertama kali dilecehkan oleh orang tua mereka sendiri, yang menyiarkan langsung kekerasan seksual untuk konsumsi predator di negara-negara Barat yang kaya.

“Agak kacau setiap kali kami memasuki rumah tempat pelecehan terjadi, karena semua anak menangis,” ujar Mellanie Olano, kepala pekerja sosial di International Justice Mission, kepada AFP. “Korban seringkali mengalami hyperarousal, menderita masalah tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan kesulitan mengendalikan emosi mereka. Tentu saja karena sebagian besar pelakunya adalah orang tua, karena mereka berpisah dengan orang tua.”

Loading...