Terpukul Perlambatan Ekonomi Global, PDB Indonesia Cuma Tumbuh 5,02 Persen

Proyek Pembangunan di Jakarta - beritagar.idProyek Pembangunan di Jakarta - beritagar.id

JAKARTA – Pertumbuhan pada kuartal III 2019, yang baru saja dilaporkan pada hari Selasa (5/11) kemarin, harus tergelincir ke level terendah dalam lebih dari dua tahun. Hal tersebut menandakan akan lebih banyak stimulus moneter dan fiskal selama beberapa bulan mendatang untuk memacu yang harus terpukul oleh perlambatan ekonomi .

Dilansir dari Nikkei, Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin melaporkan bahwa domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,02 persen secara year-on-year pada kuartal III 2019, laju paling lemah sejak kuartal II 2017. Angka tersebut mendekati proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters, sebesar 5,01 persen, turun dari ekspansi 5,05 persen di kuartal kedua.

Meskipun Indonesia lebih bergantung pada permintaan domestik, pertumbuhan ekonomi harus melambat karena kondisi perdagangan global yang terpukul sengketa tarif AS-China, sehingga berdampak negatif pada . Ini pada gilirannya telah merusak sentimen konsumen dan domestik. “Ekonomi global penuh dengan ketidakpastian dan ini memengaruhi banyak negara. Jadi, meskipun 5,02% melambat, tidak setajam negara-negara lain,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto.

Pada kuartal III kemarin, pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang merupakan lebih dari setengah dari PDB Indonesia, sedikit menurun menjadi 5 persen dari 5,2 persen, setelah pengeluaran besar-besaran terkait dengan momen Ramadan dan Idul Fitri. Pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan juga melambat pada periode Juli-September dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.

Presiden Joko Widodo, yang memenangkan pemilihan kembali pada bulan April lalu dan menjanjikan lebih banyak peluang investasi, sekarang berada di bawah tekanan untuk menghindari penurunan tajam. Namun, Jokowi, yang telah memperingatkan anggota kabinetnya tentang risiko resesi global, masih memiliki sedikit ruang untuk membuka keran fiskal setelah pendapatan pemerintah terpukul oleh pendapatan perusahaan yang lemah dan pelambatan yang lebih luas.

Pemerintah pada bulan Agustus kemarin sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan tahun 2019 menjadi 5,08 persen, turun dari 5,17 persen tahun lalu, yang berarti akan menandai perlambatan tahunan pertama untuk ekonomi dalam empat tahun terakhir. Negara sendiri mengharapkan pertumbuhan PDB dapat pulih menjadi 5,3 persen pada tahun 2020 mendatang, meski beberapa ekonom menilai itu terlalu optimis.

“Penggerak pertumbuhan menunjukkan perlambatan di semua mesin produktif, dan penurunan impor telah membantu menahan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” kata ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardana. “Mengingat hasil dan prospek seperti itu, kami pikir para pembuat kebijakan ingin menggunakan semua instrumen yang mungkin ada untuk mendukung pertumbuhan, dan kebijakan fiskal akan menjadi sorotan karena bank sentral telah menurunkan suku bunga beberapa kali.”

Meski demikian, ketika ekonomi Indonesia dilaporkan cukup mengecewakan, nilai tukar rupiah justru mampu menguat terhadap AS. Pada perdagangan kemarin, berdasarkan data , Garuda ditutup naik 45 poin atau 0,3 persen ke level Rp13.969 per AS. Sepanjang tahun ini pun, spot masih bergerak di zona hijau dengan penguatan sebesar 3%.

Loading...