PDB Indonesia 5,17%, Rupiah Tetap Lesu di Senin Sore

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (5/11) sore - suaraindonesianews.com

JAKARTA – Data domestik bruto (PDB) dalam negeri kuartal III 2018 yang mencapai angka 5,17%, serta pelemahan yang dialami , ternyata gagal mengatrol ke zona hijau pada Senin (5/11) sore. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.56 WIB, Garuda melemah 22 poin atau 0,14% ke level Rp14.977 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.972 per dolar AS, menguat 117 poin atau 0,77% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.089 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,54% dialami oleh rupee India.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sepanjang kuartal III 2018, Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,17%. Meski melambat dari kuartal kedua 2018, namun catatan ini masih lebih tinggi dari prediksi dan lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, sedangkan dari sisi pengeluaran, ditopang oleh semua komponen.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2014 secara tahunan,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, dalam siaran pers. “Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di sektor jasa lainnya yang mencapai 9,19%. Kemudian, disusul oleh informasi dan komunikasi yang mencapai 8,98% pertumbuhannya.”

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya cenderung bergerak melemah terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Senin, karena terpengaruh perkembangan Brexit, yang mengatrol kurs pound sterling, euro, dan sentimen global secara luas. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,032 poin atau 0,03% ke level 96,51 pada pukul 11.16 WIB.

Meski demikian, ekonom beranggapan bahwa kekuatan dolar AS akan kembali karena fokus investor beralih ke harapan untuk kebijakan moneter AS yang lebih ketat setelah data nonfarm payroll pekan lalu terbilang solid. Analis melihat, Federal Reserve masih berada di jalur untuk menaikkan pada bulan Desember, diikuti oleh dua kenaikan lainnya pada pertengahan 2019.

Loading...