PDB Domestik Cuma Tumbuh 5,06%, Rupiah Berakhir Lesu

rupiah melemah

Laporan Indonesia di kuartal ketiga 2017 yang berada di bawah ekspektasi membuat rupiah tidak mampu keluar dari zona merah sepanjang perdagangan Senin (6/11) ini. Alhasil, menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, NKRI harus mengakhiri transaksi hari ini dengan pelemahan sebesar 26 poin atau 0,19% ke level Rp13.524 per dolar .

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 54 poin atau 0,40% di posisi Rp13.498 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan (3/11) lalu. Namun, pagi tadi mata uang Garuda berbalik melemah 47 poin atau 0,35% ke level Rp13.545 per dolar AS di awal transaksi. Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.517 hingga Rp13.546 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa bruto (PDB) Indonesia di kuartal ketiga 2017 hanya tumbuh sebesar 5,06% secara tahunan (year-on-year). Meski angka ini lebih baik dari capaian tahun lalu yang sebesar 5,02% dan kuartal kedua kemarin yang sebesar 5,01%, namun masih di bawah ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia yang mengharapkan tumbuh 5,2%-5,4%.

“Konsumsi rumah tangga yang selama ini menyumbang kontribusi terbesar pada struktur PDB mencatatkan pertumbuhan paling lemah, yakni 4,93% secara tahunan,” terang Kepala BPS, Suhariyanto. “Sementara itu, pertumbuhan ekspor tercatat memiliki performa paling baik, yakni sebesar 15,09% dengan porsi 2,5% dari pembentuk PDB.”

Sementara, dari global, indeks dolar AS sebenarnya sedikit mengalami koreksi, namun masih bergerak di kisaran level tertinggi dalam tiga bulan menyusul rilis data tenaga kerja Paman Sam terbaru. Mata uang tersebut terpantau melemah 0,022 poin atau 0,02% ke posisi 94,919 pada pukul 10.11 WIB, setelah sebelumnya berakhir di level 94,941.

Data pekerjaan AS yang dirilis Jumat waktu setempat menunjukkan perlambatan dalam pertumbuhan upah serta peningkatan angka nonfarm payroll yang lebih kecil dari perkiraan pada bulan Oktober. Namun demikian, sebuah survei yang menunjukkan kuatnya aktivitas sektor jasa AS membantu membalik penurunan dolar AS yang disebabkan data pekerjaan.

“Akan menjadi suatu kekhawatiran jika pelemahan (pada pertumbuhan upah) berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, namun angka terakhir tampaknya merupakan hasil dari penurunan setelah dampak badai pada bulan sebelumnya,” ujar pakar strategi FX senior untuk Barclays di Tokyo, Shinichiro Kadota. “Spekulasi penaikan The Fed pada bulan depan juga menopang potensi satu atau dua kali penaikan lebih lanjut pada tahun .”

Loading...