PDB AS Tumbuh 3,5%, Rupiah Rebound di Awal Pekan

Rupiah mampu rebound pada pembukaan perdagangan Senin (29/10) ini - BeritaSatu.com

ternyata mampu pada pembukaan perdagangan Senin (29/10) ini, meski data bruto () AS terbaru masih terbilang solid. Menurut laporan Index, Garuda mengawali dengan menguat tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp15.213 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup melemah 29 poin atau 0,19% di posisi Rp15.217 per dolar AS pada akhir pekan (26/10) kemarin.

Seperti dilansir CBS News, pada Jumat waktu setempat, Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa perekonomian negara tersebut tumbuh 3,5% pada kuartal III 2018. Meski angka tersebut masih lebih rendah dari capaian di kuartal sebelumnya, namun masih lebih tinggi dari konsensus yang hanya 3,3%, sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi Paman Sam masih kuat.

Pertumbuhan PDB AS di kuartal ketiga kemarin didorong oleh belanja konsumen yang kuat, namun dibatasi tarif perdagangan baru antara Negeri Paman Sam dan China. Menurut catatan Departemen Perdagangan AS, penurunan ekspor dan penurunan investasi juga sebagian bertanggung jawab atas menurunnya PDB kali ini dibandingkan kuartal kedua kemarin.

“Defisit perdagangan berkembang pesat dan dikurangi 1,8 persentase poin dari pertumbuhan kuartal ini,” papar direktur penelitian di Economic Policy Institute, Josh Bivens, dikutip CBS News. “Jika administrasi Presiden Donald Trump mencoba untuk meningkatkan daya saing AS dengan tindakan kebijakan selama ini, jelas dia telah gagal.”

Menurut ekonom Bank Central Asia, David Sumual, selain data PDB AS, pergerakan rupiah hari ini juga akan dipengaruhi sentimen pernyataan petinggi European Central Bank (ECB) yang akan menghentikan stimulus dan menaikkan suku bunga. Namun masalahnya, Uni Eropa saat ini masih menghadapi masalah terkait defisit anggaran Italia.

Persoalan defisit anggaran Italia yang berkepanjangan juga turut memberi dorongan kepada greenback dalam beberapa sesi terakhir. Pasalnya, pemerintah Italia menetapkan defisit fiskal anggaran tahun depan menjadi 2,4% dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melonjak tajam dari usulan pemerintah sebelumnya, yakni sebesar 0,8%.

Loading...