PDB AS Positif, Rupiah Malah Rebound di Awal Pekan

Rupiah rebound pada awal perdagangan Senin (29/4) iniRupiah rebound pada awal perdagangan Senin (29/4) ini - mediaindonesia.com

JAKARTA – Rupiah ternyata mampu rebound pada awal Senin (29/4) ini meski () AS kuartal pertama 2019 dilaporkan positif. Menurut catatan Index, Garuda mengawali dengan menguat 9 poin atau 0,06% ke level Rp14.190 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup melemah 13 poin atau 0,09% di posisi Rp14.199 per dolar AS pada akhir pekan (26/4) kemarin.

Pada Jumat waktu setempat, Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa PDB tersebut sepanjang kuartal pertama tahun ini tumbuh sebesar 3,2% year-on-year, sekaligus melebihi ekspektasi dan menjadi salah satu ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah Negeri Paman Sam. Data ini juga menghilangkan kekhawatiran, setidaknya untuk saat ini, bahwa mungkin ada perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Namun, itu bukan untuk mengatakan bahwa itu adalah gambar yang sangat indah. Ancaman perang yang berkelanjutan dengan Cina mendorong bisnis AS untuk menimbun persediaan pada tingkat yang dipercepat,” kata ekonomi PIMCO, Tiffany Wilding. “Ini berarti bahwa barang-barang dan -bahan itu ‘harus dikerjakan’ pada kuartal mendatang.”

Sejumlah ekonom dalam negeri meyakini bahwa rupiah masih akan cenderung bergerak turun pada awal pekan ini. Data PDB AS kuartal pertama 2019 yang tumbuh lebih tinggi daripada ekspektasi bakal menjadi pemberat rupiah. Pasalnya, indeks dolar AS sempat menyentuh level 98,064 pada pukul 08.34 WIB, salah satu yang tertinggi sepanjang tahun 2019.

“Artinya, meski ekonomi melambat, tetapi tidak akan terlalu signifikan rasanya AS tidak akan mengalami hard landing,” jelas Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip Kontan. “Sementara, dari dalam negeri, nyaris tidak ada sentimen yang bisa menolong rupiah setelah Bank Indonesia menahan acuan, yang sesuai dengan ekspektasi pasar.”

Menurut Ibrahim, memang sulit bagi Bank Indonesia untuk bermanuver dengan kebijakan suku bunga. Menaikkan jelas tidak mungkin, karena tren kebijakan moneter global yang sudah tidak lagi hawkish tahun ini. Bahkan, memperkirakan tidak ada kenaikan suku bunga acuan sampai akhir tahun, dan bank sentral meramal Federal Funds Rate bahkan tidak akan naik sampai tahun depan.

Loading...