PDB AS Diproyeksikan Naik, Rupiah Turun Tipis di Awal Pekan

rupiah melemah

Laporan PDB AS yang diprediksi membaik membuat melempem pada pembukaan Senin (31/7) ini. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, Garuda membuka transaksi hari ini dengan melemah 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.327 per AS. Namun, pada pukul 08.38 WIB, spot mampu tipis 2 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.322 per AS.

Pada akhir pekan kemarin, Kementerian Perdagangan AS menerbitkan proyeksi (PDB) Paman Sam pada kuartal kedua 2017 (April-Juni) akan menembus 2,6%, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan PDB kuartal I/2017 yakni 1,2%. Lonjakan ini diperkirakan akan ditopang oleh konsumsi domestik yang tumbuh cepat.

Seperti diketahui, konsumsi masyarakat AS tumbuh 2,8% pada kuartal II/2017. Level ini melesat dari perolehan kuartal I/2017 yang mencapai 1,9%. Dalam hal ini, belanja menyumbang lebih dari dua pertiga ekonomi Paman Sam. “Belanja riil sekali lagi menciptakan lonjakan kuat dalam pertumbuhan ekonomi,” ujar penasihat ekonomi senior di PNC, Stuart Hoffman.

Data pertumbuhan ekonomi teranyar AS tersebut mengindikasikan masih ada ruang bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan mereka pada sisa tahun 2017 ini. Jika The Fed memang benar menaikkan suku bunga, maka itu akan menjadi kenaikan ketiga sepanjang tahun ini. Namun, para ekonom menyebut bahwa data ekonomi terbaru tidak serta-merta membuat Bank Sentral AS itu terburu-buru menaikan FFR target mereka.

Meski demikian, sejumlah analis ekonomi dalam negeri masih optimistis bahwa rupiah dapat bangkit menguat pada perdagangan hari ini. Pasalnya, laju dolar AS masih dalam tren pelemahan seiring respons pasar yang kecewa dengan kegagalan pemerintahan Donald Trump untuk mengubah kebijakan UU Kesehatan Obamacare.

“Masih adanya sentimen negatif bagi dolar AS diharapkan dapat dimanfaatkan rupiah untuk berbalik menguat, yang tentunya juga didukung oleh sentimen kondisi ekonomi domestik yang kondusif,” papar Analis Senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada. “Rupiah kemungkinan bergerak di kisaran support Rp13.335 per dolar AS dan resistance Rp13.320 per dolar AS.”

Loading...