PDB AS Cemerlang, Rupiah Tetap Melaju di Awal Pekan

Mata uang rupiah - www.medcom.idMata uang rupiah - www.medcom.id

Meski data domestik bruto () kuartal kedua 2018 cukup cemerlang, namun tetap mampu melaju pada awal Senin (30/7) ini. Dilansir , mata uang Garuda membuka dengan menguat 8 poin atau 0,06% ke level Rp14.409 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 47 poin atau 0,32% di posisi Rp14.417 per AS pada akhir pekan (27/7) kemarin.

Jumat waktu setempat, PDB AS sepanjang kuartal kedua 2018 dilaporkan tumbuh 4,1% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 2,2%%. Ini sekaligus menandai laju tercepat dalam hampir empat tahun, menurut perkiraan awal yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS. Sebelumnya, para ekonom memprediksi PDB AS bisa mencapai angka 4,2%.

Meski data ekonomi AS cukup cemerlang, ternyata tidak cukup mengangkat laju greenback, karena masih adanya kekhawatiran bahwa friksi perdagangan akan menjadi hambatan di kuartal kedua tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau tipis 0,07% menuju level 94,697 pada akhir Jumat waktu setempat atau Sabtu (28/7) pagi WIB.

“Nilai tukar rupiah pada pekan ini atau pada 30 Juli sampai 3 Agustus 2018 bakal menguat seiring tren pelemahan laju dolar AS,” ujar senior analyst CSA Research Institute, Reza Priyambada, seperti dilansir Tempo. “Diharapkan, kondisi ini masih dapat bertahan di pekan depan untuk mendukung kenaikan lanjutan dari rupiah.”

Sementara itu, ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, mengatakan bahwa kurs rupiah akan kembali terpuruk pada awal pekan ini. Pasalnya, data estimasi awal pertumbuhan PDB AS di kuartal kedua 2018 dirilis positif meski meleset dari konsensus . Realisasi PDB ini akan membuat keputusan The Fed menaikkan pada September mendatang semakin pasti.

“Kendati demikian, tekanan terhadap rupiah diharapkan tidak berlangsung lama, terutama nanti akan dirilis pertumbuhan inflasi domestik bulan Juli pada Rabu (1/8) mendatang,” kata Mikail. “Selain itu, sentimen positif bagi rupiah seyogyanya datang dari rencana pemerintah melakukan relaksasi domestic market obligation (DMO) batubara.”

Loading...