PDB AS Capai 2,3%, Rupiah Malah Menguat di Awal Pekan

Rupiah - okezone.comRupiah - okezone.com

Meski Domestik Bruto () dilaporkan mencapai 2,3%, namun rupiah mampu rebound pada awal perdagangan Senin (30/4) ini. Seperti dipaparkan Index, mata uang Garuda membuka transaksi dengan menguat 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.874 per AS. Sebelumnya, spot harus ditutup melemah 2 poin atau 0,01% di posisi Rp13.893 per AS pada akhir pekan (27/4) kemarin.

Jumat waktu setempat, Departemen Perdagangan AS melaporkan PDB tersebut untuk triwulan pertama 2018 mencapai 2,3%. Angka ini memang mengalahkan konsensus pasar sebesar 2,0%, namun lebih rendah dari capaian 2,9% yang terjadi pada triwulan sebelumnya. “Itu akan menjadi 2,9% jika bukan karena sisa dari kuartal keempat terkait badai pengeluaran untuk mobil dan perbaikan rumah,” kata kepala ekonom di FTN Financial, Chris Low.

Saat ini, fokus pasar tertuju pada Federal Open Marketing Committee () meeting yang bakal dilakukan pada tengah pekan ini. Pelaku pasar pada dasarnya masih meyakini bahwa Federal Reserve baru akan menaikkan suku bunga acuan mereka pada bulan Juni mendatang. Namun, pernyataan terkait frekuensi kenaikan suku bunga pada tahun ini tetap menjadi perhatian utama .

“Sementara, dari dalam negeri, belum ada sentimen domestik yang memengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini,” jelas ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, seperti dikutip dari Kontan. “Pernyataan yang berpeluang menaikkan suku bunga acuan juga tidak bisa dinilai sebagai katalis penggerak rupiah.”

Sedikit berbeda, analis Asia Trade Point Futures, Andri Hardianto, menyebut bahwa sepekan ke depan, mata uang NKRI berpotensi bergerak menguat, kendati pasar harus tetap bersikap waspada. Menurutnya, sentimen positif datang dari wacana Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga, yang memperoleh sedikit respons positif dari pasar.

“Di samping itu, pembagian dividen oleh para emiten yang mereda turut memberi tenaga pada rupiah,” sambung Andri. “Pembagian dividen ini kemungkinan sudah tidak seperti pekan lalu sehingga dari sektor tersebut, aksi beli dolar AS sudah cukup mereda. Namun, rupiah tetap perlu waspada, terutama menjelang FOMC meeting tengah pekan.”

Loading...