PDB AS Anjlok ke Level Terendah, Rupiah Melaju di Awal Pekan

Perlambatan ekonomi menjadi celah bagi mata uang Garuda untuk unggul pada perdagangan awal pekan (30/1) ini. Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali sesi dagang hari ini dengan 16 poin atau 0,12% ke Rp13.344 per . Kemudian, pada pukul 08.35 WIB, spot kembali naik 20 poin atau 0,15% ke Rp13.340 per .

“Revisi data AS kuartal IV 2016 yang anjlok ke level terendah sejak 2011 menjadi penyebab utama penurunan yield US Treasury serta indeks dolar AS yang enggan menguat,” jelas Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. “Hal tersebut juga menekan harapan kenaikan pada FOMC meeting yang dijadwalkan minggu ini.”

Pada akhir pekan kemarin, data pertumbuhan ekonomi AS kuartal IV 2016 diumumkan menukik 3,5% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 1,9%. Ini masih ditambah dengan pemesanan barang tahan lama AS pada Desember 2016 yang merosot 0,6% menjadi 0,5%, sehingga membuat the greenback minim daya tahan. “Tetapi, penguatan rupiah bisa tertahan merespons inflasi Januari 2017 yang diperkirakan naik,” sambung Rangga.

Hampir senada, Analis Uang PT Bank Mandiri Tbk, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa data AS yang dirilis lebih buruk dari perkiraan tentunya bisa menjadi peluang bagi mata uang Garuda untuk kembali melambung. “Hanya saja, perlu diwaspadai tingginya permintaan dolar AS di menjelang akhir bulan,” kata Rully.

Pada akhir pekan (27/1) kemarin, rupiah harus ditutup merosot 0,21% ke level Rp13.360 per dolar AS, dengan kurs tengah Bank Indonesia yang dipatok turun 0,25% ke posisi Rp13.359 per dolar AS. Pasar yang mengantisipasi PDB AS kuartal IV sempat memilih aksi bargain hunting pada posisi dolar AS menjadi alasan kenapa rupiah terkoreksi.

Loading...