Cegah Kasus Pedofilia, Paus Fransiskus Revisi Aturan Gereja

Paus Fransiskus - time.comPaus Fransiskus - time.com

VATIKAN – Selasa (1/6) waktu setempat, Paus Fransiskus memperbarui undang-undang , dengan menambahkan arahan untuk menghukum imam yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah . yang sudah ditunggu-tunggu, terutama oleh para aktivis yang mengecam pedofilia tersebut, merupakan yang paling ekstensif sejak Paus Yohanes Paulus mengesahkan hukum pada tahun 1983 silam.

Dikutip dari France24, revisi sanksi pidana dalam Kitab Hukum Kanonik mengikuti panjang yang melibatkan masukan dari ahli hukum kanonik dan hukum pidana, serta terjadi setelah pengaduan berulang-ulang para korban pelecehan seksual dan lainnya bahwa kata-kata dalam undang-undang sebelumnya sudah usang dan tidak transparan. “Tujuan revisi adalah pemulihan keadilan, reformasi pelanggar, dan perbaikan skandal,” tulis Paus Fransiskus.

Sejak menjadi paus pada tahun 2013 silam, pria asal Argentina tersebut telah berusaha untuk mengatasi skandal pelecehan seksual selama puluhan tahun yang melibatkan para imam Katolik di seluruh dunia, meskipun banyak aktivis melawan pedofilia bersikeras masih banyak yang harus dilakukan. Dia sempat mengadakan pertemuan puncak yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang pelecehan seksual para imam pada tahun 2019 sambil mencabut aturan kerahasiaan yang menghalangi penyelidikan pelecehan terhadap pendeta atau pastor.

Kode baru memang tidak secara eksplisit menguraikan pelanggaran seksual terhadap anak di bawah umur, tetapi mengacu pada pelanggaran terhadap perintah keenam, yang melarang perzinahan. Seorang imam harus dicopot dari jabatannya dan dihukum ‘dengan hukuman lain yang adil’ jika dia melakukan pelanggaran seperti itu dengan anak di bawah umur. Demikian pula, seorang imam yang merawat atau membujuk anak di bawah umur ‘untuk mengekspos dirinya secara pornografi atau untuk mengambil bagian dalam pameran pornografi’, akan dihukum dengan cara yang sama.

“Teks baru memperkenalkan berbagai modifikasi hukum yang berlaku dan sanksi beberapa tindak pidana baru, yang menanggapi yang semakin meluas di berbagai komunitas untuk melihat keadilan dan ketertiban ditegakkan kembali,” sambung Paus Fransiskus. “Perbaikan teknis lainnya terkait dengan hak pembelaan, undang-undang pembatasan untuk tindakan , penentuan hukuman yang lebih tepat.”

Seperti diwartakan VOA Indonesia, pejabat-pejabat Vatikan mengonfirmasi bahwa perubahan undang-undang tersebut akan berlaku pada bulan Desember 2021 mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Santa Maria Tak Bernoda. Menurut Monsinyur Filippo Iannone, kepala bagian yang bertanggung jawab atas proyek itu, ada kebutuhan untuk menegakkan hukum pidana karena beberapa situasi yang tidak beres dalam komunitas.

Terlepas dari langkah-langkah baru-baru ini untuk membasmi pelecehan oleh para imam dan meningkatkan transparansi, beberapa korban mengatakan bahwa Vatikan masih belum bertindak cukup jauh untuk melindungi anak-anak. Bahkan, ini juga berlaku di dunia Barat, ketika liputan media yang intensif terhadap para imam pedofil telah menyebabkan pengawasan yang lebih besar terhadap praktik-praktik gereja.

Loading...