Pasokan Tumpah Ruah, Minyak Mentah diobral hingga US$ 20 Per Barel

minyak mentah ditetapkan pada angka US$ 35 per barel di New York. Beberapa produsen minyak lainnya bahkan sudah menjualnya dengan harga yang lebih murah.

Berdasar data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, Campuran minyak mentah Meksiko kini hanya seharga US$ 28 per barelnya, harga paling rendah sejak 11 tahun terakhir. Irak menawarkan minyak terbaiknya hanya dengan harga US$ 25 untuk Asia. Sedang di Kanada Barat, beberapa produsen justru menjual minyak mereka dengan harga di bawah US$ 22 per barel.

“Lebih dari sepertiga produsen minyak dunia tidak mendapat keuntungan pada (level) harga ini,” kata Ehsan Ul-Haq, konsultan senior di KBC Advanced Technologies Plc, melalui surat elektroniknya. “Produsen minyak Kanada bisa mengalami kesulitan dalam menutup operasional mereka.” lanjut Ehsan.

Merosotnya harga minyak kali ini mendekati kondisi krisis global yang terjadi pada tahun 2009 lalu, dimana saat itu pasokan minyak juga sangat melimpah. Sementara harga patokan untuk jenis minyak West Texas Intermediate dan Brent masih tertahan di US$ 30-an per barel, varietas minyak yang lebih tebal dan hitam hanya dihargai US$20-an per barel. Bitumen, varietas minyak kental hitam yang bercampur pasir, tanah liat, dan air hanya mampu diperdagangkan di kisaran harga US$ 13 per barel.

Meksiko berhasil menyelamatkan diri dari kemerosotan harga minyak dengan mengamankan harga dari 212 juta barel minyaknya di harga US$ 49 per barel untuk ekspor tahun mendatang. Namun, tak semua negara berkesempatan melakukan hal yang sama. Venezuela yang juga anggota OPEC telah mengasumsikan harga minyak di level US$40 untuk tahun depan, padahal kini minyaknya hanya diperdagangkan di harga US$ 30 per barel. Akibatnya, cadangan devisa Venezuela tersedot sebanyak US$ 14,6 Miliar.

OPEC yang memasok 40% kebutuhan minyak mentah dunia kini menjual minyak dengan 2 patokan harga berbeda. Harga resmi harian untuk minyak mentah dari 12 negara produsen minyak bertahan pada harga US$ 33,76 per barel, sedangkan produsen lainnya saling banting harga hingga membuat harga minyak anjlok. Ironisnya, para produsen yang menjual minyak pada harga terendah tersebut memiliki insentif lebih untuk memompa minyak, membuat pasokan minyak menjadi tumpah dan harga semakin tak terkendali.

Loading...