Pasokan Minyak Mentah Kacau, Rupiah turut Melambung bersama Harga Minyak

Jakarta Rupiah kembali bersinar di Selasa (17/5). Ketika spot , Rupiah menguat 15 poin ke level Rp 13.295/USD.

Pelemahan indeks Dolar AS terhadap sebagian besar mata uang utama menjadi salah satu alasannya. Data yang dirilis oleh negeri Paman Sam tersebut nampaknya mengecewakan para investor. Pada data Indeks Perumahan National Association of Home Builders/Wells Fargo yang dirilis pada Senin (16/5), kepercayaan pengembang untuk keluarga tunggal yang baru dibangun pada Mei 2016 tidak beranjak di tingkat 58. Padahal, konsensus pasar memperkirakan nilainya akan mencapai 59.

Sementara itu, Survei Empire State untuk Mei 2016 juga menunjukkan bahwa kegiatan usaha di New York mengalami penurunan. Indeks utama kondisi secara umum turun 19 poin menjadi minus 9,0 dan gagal memenuhi konsensus pasar untuk kenaikan 7,0%.

Faktor kedua adalah harga minyak yang melambung ke level tertinggi akibat terganggunya pasokan minyak mentah di beberapa negara. Seperti dilansir Reuters, harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam kurun waktu 6 bulan terakhir akibat penghentian produksi di Nigeria, Venezuela, dan lainnya, juga penurunan produksi di AS, serta pembekuan suplai dari Kanada akibat kebakaran yang melanda minyak Alberta. Perusahaan global Goldman Sachs pun terpaksa mengeluarkan pernyataan bullish akan harga minyak dalam jangka pendek.

Harga minyak WTI kontrak Juni 2016 melesat naik 1,09% menjadi USD 48,24 per barel (pukul 11.05 WIB), sedangkan minyak Brent menanjak 0,59% menjadi USD 49,26 per barel.

Sedangka dari ranah domestik, surplus neraca Indonesia masih menjadi pendorong utama penguatan Rupiah. Sebagaimana tercatat pada data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca Indonesia pada April 2016 berstatus surplus USD 667,2 juta.

“Potensi arus dana asing masuk ke dalam negeri akan semakin besar jika Indonesia masuk menjadi investment grade oleh Standard & Poors (S&P) pada tahun ini,”” ucap Leo Rinaldy, Ekonom Mandiri Sekuritas.

Loading...