Pasca Sentuh Level $ 483, Ethereum Diperdagangkan Turun ke $ 459,58

harga ethereum

Pada Sabtu (25/11) kemarin berhasil mencapai level tertinggi di USD 483 dan semakin mendekat ke posisi USD 500. Sayangnya hari ini, Minggu (26/11) Ethereum turun 1,44% ke angka USD 459,58 atau sekitar Rp 6,2 jutaan setelah dibuka di posisi USD 466,28. Sepanjang hari ini ETH diperdagangkan pada kisaran USD 457,16 hingga USD 466,65 dengan pangsa pasar sebesar USD 36,93 miliar.

Jaringan ether tetap menjadi satu-satunya blockchain publik yang memproses lebih banyak transaksi dibandingkan jaringan Bitcoin setiap harinya. Bahkan ethereum memproses lebih banyak transaksi daripada semua cryptocurrency jika digabungkan, termasuk Bitcoin, Bitcoin Cash, Ripple, dan Litecoin.

Selama beberapa bulan terakhir, Ethereum Foundation dan komunitas pengembang open source di ethereum telah memperkenalkan solusi penskalaan inovatif seperti Plasma, Sharding, dan Casper, dengan tujuan untuk menyediakan skala rantai on-chain dan off-chain pada protokol Ethereum dengan solusi lapisan kedua.

Byzantium sebagai upgrade hard fork terbaru dari jaringan Ethereum menawarkan peningkatan kapasitas transaksi yang signifikan melalui upgrade perangkat lunak yang menyerupai SegWit, dengan menghilangkan informasi yang tidak perlu dari transaksi Ether. Akibatnya, volume transaksi harian jaringan Ethereum kini meningkat menjadi sekitar 550.000 transaksi per hari, hampir 2 kali lebih besar dari jaringan Bitcoin.

Sejak awal September hingga pertengahan November 2017, harga Ether tetap stabil di kisaran USD 300 setelah jatuh dari USD 390 menjadi USD 300 pasca adanya Initial Coin Offering (ICO) dan larangan perdagangan digital yang dicetuskan oleh pemerintah China. Akan tetapi, pada pertengahan November 2017 harga Ether mulai menunjukkan momentum kenaikan yang akhirnya menembus USD 400 dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di USD 483.

miliarder, Mike Novogratz mengaku optimis terhadap harga jangka pendek dan menengah dari Ethereum mengingat meningkatnya aktivitas pengembang di jaringan blockchain ethereum dan berkembangnya terdesentralisasi.

“Aplikasi desentralisasi non-ICO telah menunjukkan model bisnis yang berkelanjutan, melalui fee yang transparan. EtherDelta misalnya, menjadi aplikasi terdesentralisasi terbesar pada protokol Ethereum tanpa ICO, melalui model berkelanjutan dan basis kode open source,” kata pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, seperti dilansir Cryptocoinsnews. EtherDelta sendiri dilaporkan telah menyumbang sekitar 15% dalam volume transaksi harian jaringan Ethereum.

Loading...