Pasca Rilis Data Inflasi AS, Rupiah Kembali Terlempar ke Zona Merah

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

Jakarta – Nilai tukar mengawali pagi hari ini, Kamis (14/2), dengan pelemahan sebesar 11,8 poin atau 0,08 persen ke level Rp 14.070,8 per dolar AS. Sebelumnya, Rabu (13/2), kurs Garuda ditutup terapresiasi 9 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 14.059 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,43 persen menjadi 97,1309 lantaran para pelaku tengah mencermati inflasi utama.

Seperti dilansir Xinhua melalui iNews, pada Rabu (13/2), Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa Indeks Harga (CPI) di AS datar pada Januari 2019 lantaran harga energi yang lebih rendah. CPI, salah satu ukuran inflasi, dilaporkan tidak berubah untuk bulan ketiga berturut-turut pada Januari 2019, usai sempat naik sebesar 0,3 persen pada Oktober 2018 lalu. Selama 12 bulan terakhir ini CPI telah naik 1,6 persen, melambat dari kenaikan tahun ke tahun 1,9 persen pada Desember.

CPI inti, yang tak termasuk energi dan makanan naik sebesar 0,2 persen pada Januari 2019 dibanding bulan sebelumnya. Sepanjang tahun ini CPI inti telah meningkat 2,2 persen. Data tersebut telah membantu menciptakan lingkungan yang mendukung sikap dovish dari sekarang ini, yang menopang sentimen pasar.

Di sisi lain, menurut Ekonom Permata, Josua Pardede, dari sisi internal pasar obligasi pada perdagangan kemarin berhasil memberi sentimen yang positif. Sebab Surat Utang Negara (SUN) berhasil mencapai total penawaran hingga Rp 66.356 triliun. Sedangkan total nominal yang dimenangkan dari ketujuh seri SUN sebesar Rp 25 triliun.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan tak ingin pemerintah AS kembali shutdown. “Pasar global jadi sedikit optimis kepada AS sehingga dollar AS menguat,” jelas Josua, seperti dilansir Kontan.

Sayangnya sampai saat ini masih belum ada kesepakatan yang jelas antara Trump dan pemerintah AS terkait pembangunan tembok perbatasan di Meksiko. Josua menambahkan, perang dagang AS dan China juga masih menjadi sentimen yang negatif. Apabila hingga tanggal 1 Maret 2019 masih belum ada kesepakatan impor China pada AS akan naik, maka sejumlah mata uang akan melemah terhadap dolar AS.

Loading...