Pasca Rilis Data Ekonomi AS, Rupiah Melemah 7 Poin di Pembukaan

rupiah - www.viva.co.idrupiah - www.viva.co.id

Jakarta rupiah dibuka 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 13.741 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (15/3). Sebelumnya, Rabu (14/3), Garuda ditutup terapresiasi 18 poin atau 0,13 persen menjadi Rp 13.734 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak The terpantau diperdagangkan bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,06 persen menjadi 89,731 lantaran para tengah mencermati data ekonomi terbaru Amerika Serikat yang telah dirilis.

Departemen Perdagangan melaporkan bahwa perkiraan awal penjualan ritel dan jasa-jasa makanan di AS pada Februari 2018 mencapai angka 492 miliar dolar AS, lebih rendah 0,1 persen dari bulan sebelumnya dan gagal mencapai konsensus pasar untuk kenaikan sebesar 0,4 persen. “Penjualan ritel terus mengecewakan, terutama komponen-komponen tiket terbesar mobil dan furnitur. Perkiraan PDB akan direvisi turun lagi, ujar Chris Low, kepala ekonom FTN Financial, seperti dilansir iNews.

Sedangkan Departemen Tenaga Kerja AS menyebutkan jika Indeks untuk permintaan akhir naik 0,2 persen pada Februari 2018 yang disesuaikan secara musiman, sesuai prediksi pasar. Pada basis yang tak disesuaikan, indeks permintaan akhir mengalami kenaikan sebesar 2,8 persen untuk 12 bulan yang berakhir pada Februari 2018.

Pada perdagangan hari ini, gerak rupiah diprediksi akan banyak dipengaruhi oleh hasil data ekonomi Amerika Serikat seperti penjualan ritel dan producer price index (PPI). Menurut Ekonom Bank Central , David Sumual, data penjualan ritel dan PPI AS cenderung stagnan atau tak mengalami perubahan yang terlalu signifikan dibanding periode sebelumnya.

Meski demikian, para investor berusaha mencermati data tersebut karena data ekonomi AS biasanya menjadi salah satu pertimbangan Federal Reserve untuk menentukan arah kebijakan moneternya. Di sisi lain, dari dalam negeri rupiah akan memperoleh sentimen dari data neraca perdagangan Februari yang akan dirilis hari ini. Meskipun diprediksi kembali defisit, hal ini diyakini belum tentu menahan laju rupiah. “Kalau defisitnya itu dikarenakan impor barang produksi setengah jadi atau bukan barang konsumsi, itu pertanda baik,” ungkap David.

Loading...