Pasca Pemilu, Imigran Masih Jadi Permasalahan Utama di Eropa

umum pada bulan Oktober lalu merupakan penanda paling penting di pada 2017. Terpilihnya kembali Kanselir Angela Merkel dianggap penting untuk Uni Eropa. Meski posisinya kuat dan paling di Jerman, ia juga semakin rentan. Terutama setelah tahun 2015 lalu ia memutuskan membuka perbatasan untuk para pencari suaka telah memicu banyak kritik.

Tiap serangan teroris yang akan terjadi lebih lanjut di Jerman dapat melemahkan posisi Merkel. Meskipun Jerman terus tumbuh, negara tetap terkena dampak krisis euro secara langsung. Akibatnya kemenangan Merkel dalam pemilu pun membuatnya sangat berisiko untuk dicopot oleh koalisi berhaluan kiri atau dipaksa ke dalam koalisi yang tidak diinginkannya.

Tak hanya di Amerika dan Jerman, Perancis juga menghadapi permasalahan yang sama dalam 2 fase pemilihan presiden mendatang yang dijadwalkan pada April dan Mei 2017 antara Francois Fillon, kandidat dari kanan-tengah, dan Marine Le Pen, pemimpin sayap kanan jauh, anti imigran Front National. Secara teori, Fillon diharuskan menang untuk mencegah Le Pen mengambil alih kekuasaan.

Namun secara tak terduga rupanya Le Pen telah menempatkan dirinya sebagai pembela pekerja untuk melawan kampanye Fillon untuk reformasi ekonomi yang radikal. Kemenangan Trump di AS juga dapat berpotensi memberi semangat pada rakyat Perancis untuk bereksperimen dengan politisi yang belum teruji seperti Le Pen.

Serangan terbaru pada Natal di Berlin belum lama ini seakan menegaskan bahwa kekhawatiran yang dimiliki oleh Eropa adalah tentang migrasi. Banyak warga Tunisia yang mencari suaka di Eropa bukan karena pengungsi perang. Mereka telah ditolak di Jerman namun tidak dideportasi karena paspor telah habis. Hal ini merupakan salah satu kelemahan dari imigrasi Eropa.

Tahun depan Eropa kemungkinan juga akan menghadapi lebih banyak masalah migrasi. Ketidakstabilan politik di Turki juga berpotensi membuka kembali salah satu rute migrasi terbesar. Terutama karena belum adanya kepastian bahwa gejolak di Afrika akan mereda. Dan kesenjangan kekayaan antara Eropa dengan negara-negara tetangganya akan membuat benua satu ini tetap menjadi magnet bagi para imigran.

Loading...