Pasca Libur, Rupiah Melambung Hingga 50 Poin di Pembukaan

Rupiah - www.beritamoneter.comRupiah - www.beritamoneter.com

Jakarta – Pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (2/5), dibuka menguat sebesar 50,2 poin atau 0,35 persen ke level Rp 14.206,3 per setelah momen libur Hari Buruh. Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (30/4), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 49 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp 14.257 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS menguat 0,21 persen menjadi 97,679 usai Ketua Jerome Powell mengatakan bahwa sikap kebijakan saat ini sudah tepat, sehingga mengurangi ekspektasi untuk penurunan .

Dolar AS dari kerugian awal terkait dengan laporan yang kurang positif pada kegiatan Amerika Serikat. “Dolar berbalik lebih tinggi setelah Powell menunjukkan bahwa kekuatan yang membebani inflasi mungkin terbukti sementara. Pernyataan Ketua The Fed itu cenderung membuat nada keseluruhan The Fed hari ini lebih hawkish daripada dovish,” ungkap Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Pada Maret 2019, The Fed telah mengisyaratkan tak akan menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini. Angka domestik dan luar negeri yang kurang cerah saat ini menimbulkan spekulasi jika The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga utama AS guna mencegah resesi. “Kami pikir sikap kebijakan kami sudah tepat saat ini, kami tidak melihat alasan kuat untuk memindahkannya ke arah lain,” jelas Powell.

Rupiah melemah cukup dalam pada Selasa lalu karena dipicu oleh aksi wait and see pasar terhadap hasil FOMC Meeting yang diselenggarakan pada 30 April – 1 Mei 2019, terutama berkaitan dengan beleid arah suku bunga. The Fed sendiri memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, tekanan pada rupiah semakin besar usai data manufaktur China bulan April 2019 dilaporkan turun menjadi 50,1. Padahal menurut prediksi pasar, indeks data manufaktur China berada di posisi 50,7 atau melebihi bulan sebelumnya sebesar 50,5. “Indikator China ini membuat mata uang negara emerging market termasuk rupiah melemah,” kata Josua, seperti dilansir Kontan. Hari ini pasar juga akan menanti data inflasi April 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Loading...