Pasca Libur 1 Muharram, Rupiah Berhasil Menguat di Awal Perdagangan

Rupiah - katadata.co.idRupiah - katadata.co.id

Jakarta dibuka menguat sebesar 9 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 14.848 per di awal pagi hari ini, Rabu (12/9). Dalam sebelum hari libur, Senin (10/9), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 37 poin atau 0,25 persen ke level Rp 14.857 per setelah diperdagangkan pada kisaran angka Rp 14.800 hingga Rp 14.860 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB indeks dolar AS naik 0,11 persen menjadi 95,2506 lantaran para pelaku tengah mencermati sejumlah data Amerika Serikat yang positif.

Berdasarkan laporan Federasi Nasional Bisnis Independen (The National Federation of Independent Business/NFIB) pada Selasa (11/9), indeks Optimisme Usaha Kecil AS meningkat jadi 108,8 pada Agustus 2018 dari data pada bulan Juli sebesar 107,9, melebihi pencapaian rekor tertinggi 108 pada Juli 1983 silam. Menurut NFIB, rekor tersebut didorong oleh para pemilik usaha kecil yang mengeksekusi rencana mereka lantaran adanya perubahan drastis dalam kebijakan ekonomi nasional.

Kemudian Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat juga menyampaikan bahwa pada hari kerja terakhir Juli 2018, tingkat lowongan pekerjaan AS sedikit mengalami perubahan, namun mencapai level tertinggi baru sebanyak 6,939 juta, melebihi prediksi pasar.

Di sisi lain, analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto memprediksi bahwa rupiah akan kembali melemah dalam perdagangan hari ini. “Biasanya rupiah rentan koreksi setelah penutupan pasar dan sentimen eksternal jadi lebih direspons oleh investor,” ungkap Andri seperti dilansir Kontan.

Andri menambahkan bahwa untuk saat ini para investor akan fokus pada data inflasi AS untuk bulan Agustus 2018. Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Kamis (13/9) dijadwalkan akan merilis data inflasi AS sepanjang bulan Agustus 2018 yang diperkirakan mengalami pertumbuhan 0,3 persen secara bulanan. Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan inflasi AS pada Juli sebelumnya yang hanya 0,2 persen secara bulanan.

Loading...