Pasca Kenaikan Harga BBM, Rupiah Kembali Tergelincir di Pasar Spot

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 23,8 poin atau 0,16 persen ke level Rp 15.223,8 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (11/10). Sebelumnya, Rabu (10/10), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 38 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp 15.200 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama masih melemah. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,17 persen lantaran imbal hasil mundur usai kenaikan yang begitu cepat.

Seperti dilansir Reuters, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun melonjak selama tujuh minggu atau sebesar 3,26 persen sebelum mencapai kenaikan untuk diperdagangkan pada level 3,2044 persen di tengah kekhawatiran terkait global.

Di sisi lain, Menteri Ekonomi Italia Giovanni Tria menyatakan jika pemerintah akan melakukan segala upaya demi mendapatkan kembali kepercayaan di pasar keuangan. “Ada lebih banyak optimisme bahwa mereka akan menemukan beberapa kesepakatan antara Inggris dan Uni Eropa sebelum Brexit,” ujar Kepala Global Riset Steve Englander.

Pound sterling sendiri terpantau naik usai laporan yang memunculkan kembali harapan bahwa Inggris dan Uni Eropa akan segera mencapai kesepakatan terkait Brexit. Kekhawatiran berkepanjangan sehubungan dengan kebuntuan antara Uni Eropa dan Italia atas anggaran negara mengakibatkan pinjaman Italia naik ke level tertinggi sejak 2014 dan menahan laju euro.

Pada perdagangan kemarin rupiah sempat bertenaga usai pengumuman kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi per Rabu (10/10). BBM jenis Pertamax dan Dex series serta biosolar non PSO mengalami kenaikan sejak pukul 11.00 WIB kemarin. Sedangkan untuk kenaikan jenis Premium mendadak ditunda untuk menunggu kesiapan dari PT Pertamina.

Sebagai , harga Pertamax saat ini dibanderol Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo naik jadi Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite naik jadi Rp 10.500 per liter, dan Biosolar non PSO harganya Rp 9.800 per liter.

Menurut Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto, pasar merespons positif terhadap keputusan pemerintah tersebut. “Karena yang terekspos selama ini defisit berjalan kita. Itu (BBM) komponen impor terbesar, jadi ketika dinaikkan impor BBM non subsidi diharapkan dapat mempersempit defisit,” paparnya seperti dilansir Kontan.

Ia juga memprediksi rupiah hari ini tak akan terlalu mengalami gejolak karena BI juga siap untuk melakukan intervensi. “Besok masih ada penguatan terbatas karena adanya koreksi dollar yang berlanjut,” ujar Andri.

Loading...