Pasar Wait and See Jelang FOMC Meeting, Rupiah Ditutup Naik Tipis

Sikap yang cenderung wait and see jelang rapat membuat AS terombang-ambing sehingga mampu dimanfaatkan rupiah untuk bangkit pada perdagangan awal pekan (19/9) ini. Setelah bergerak fluktuatif, menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menutup perdagangan hari ini dengan penguatan tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.152 per AS.

Pergerakan kurs rupiah dibuka tipis 8 poin atau 0,06% ke Rp13.163 per dolar AS. Sempat , mata uang Garuda kembali 9 poin atau 0,07% ke posisi Rp13.164 per dolar AS sebelum istirahat siang. Jelang tutup dagang atau pukul 15.33 WIB, spot masih tertekan dengan turun 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.167 per dolar AS. Namun, rupiah mampu bangkit sehingga ditutup di zona hijau.

Pelaku pasar sendiri memang terbelah antara dua kubu. Kubu pertama memperkirakan bakal segera menaikkan mereka, sedangkan yang lain menilai baru akan pada tahun depan. “Dengan dua kutub tersebut, pergerakan dolar AS pada hari ini menjadi cenderung tidak terlalu agresif,” kata Analis IP Morgan Asset Management, Ben Mandel.

Usai ditutup dengan penguatan ke level tertinggi pada akhir pekan lalu menyusul kenaikan indeks konsumen AS Agustus yang melampaui prediksi, dolar AS memang terpantau tergelincir sepanjang hari ini. Dibuka melemah tipis 0,069 poin atau 0,07% ke 96,039, the greenback kembali terdepresiasi 0,237 poin atau 0,25% ke level 95,871 pada Senin siang. “Sebelum ada kepastian dari Bank Sentral AS, dolar akan terus terombang-ambing dengan rentang yang tipis,” sambung Ben.

Selain rupiah, nilai tukar mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS. Penguatan paling tajam terhadap dolar AS dialami dolar Taiwan sebesar 0,72%, disusul won Korea Selatan yang naik 0,31%, dan dolar Singapura yang melonjak 0,30%.

Loading...