Pasar Tunggu Hasil Simposium Jackson Hole, Rupiah Berakhir Menguat

berhasil menutup akhir pekan (25/8) ini di zona hijau ketika mengambil sikap wait & see jelang hasil simposium bank sentral di Jackson Hole. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, NKRI memungkasi dengan penguatan tipis sebesar 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.344 per AS.

Pada awal perdagangan, rupiah berada di zona hijau setelah menguat 5 poin atau 0,04% di posisi Rp13.341 per dolar AS. Namun, istirahat siang, mata uang Garuda sempat berbalik melemah 2 poin atau 0,02% ke level Rp13.348 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.36 WIB, spot kembali lagi ke zona hijau setelah naik 1 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.345 per dolar AS.

Dari pasar global, posisi indeks dolar AS pada perdagangan hari ini sebenarnya cenderung solid di tengah penantian pasar akan sinyal kebijakan moneter dari Presiden , Janet Yellen, usai pertemuan bank sentral global di Jackson Hole. Mata uang Paman Sam pada pukul 10.08 WIB pagi tadi terpantau menguat ke level 93,32.

“Dalam pertemuan bank sentral global, pelaku pasar akan lebih fokus pada penyampaian pandangan moneter dari The Fed dan sehingga memicu dolar AS dan euro untuk bergerak ,” tulis riset Binaartha Sekuritas. “Spekulasi pembelian kedua mata uang tersebut bakal menghambat potensi kenaikan sejumlah mata uang lainnya, termasuk rupiah yang mencoba bertahan.”

Pendapat yang hampir sama diutarakan Research & Analyst Valbury Asia, Lukman Leong, yang mengatakan bahwa pasar cenderung wait & see di tengah simposium Jackson Hole sehingga dolar AS bergerak cukup fluktuatif. Namun, mata uang dalam negeri cenderung tertekan setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi 4,5% pada hari Selasa (22/8) lalu.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.348 per dolar AS, terapresiasi 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.354 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam dialami peso Filipina yang anjlok 0,15% dan won Korsel yang melorot 0,14%.

Loading...