Pasar Senilai USD 80,8 Miliar, Bandara Kawasan Asia-Pasifik Diincar Pengelola Asing

Ekspansi asing untuk menjadi pengelola di kawasan saat ini semakin gencar. Dengan pasar -Pasifik yang menawarkan angka 80,8 miliar dolar AS (menurut Nomura Research), membuat banyak operator asing berlomba-lomba untuk melebarkan sayap ke kawasan ini.

Kansai Aiports, sebuah konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan rental asal , Orix, dan Vinci Airport asal Perancis, telah mengambil alih pengoperasian Bandara Internasional Kansai dan Bandara Internasional Osaka (Itami) pada 1 April lalu. Langkah ini sekaligus menandai pertama kalinya sebuah perusahaan asing terlibat langsung dalam operasional bandara di .

Vinci sendiri sebelumnya telah mengoperasikan lebih dari 30 bandara, yang mencakup -negara seperti Portugal dan Chile, dimulai dengan kesepakatan menjalankan Bandara Internasional Phnom Penh di Kamboja pada tahun 1995 silam. Menurut Ketua Vinci, Nicolas Notebaert, saat ini pihaknya juga mengincar untuk mengelola bandara di Indonesia dan Filipina.

Notebaert yakin bahwa Vinci mampu menjalankan operasional bandara di negara-negara berkembang. Perusahaan ini telah menghabiskan sekitar 100 juta dolar AS untuk memperluas terminal bandara dan daerah komersial di Bandara Kamboja. Dengan membuka rute baru penerbangan, Vinci juga telah meningkatkan lalu lintas tahunan di Bandara Phnom Penh lebih dari 250% dalam dua dekade terakhir.

Selain Vinci, operator asal Perancis, Aeroports de Paris, juga berencana memperluas ekspansi ke kawasan Asia. Perusahaan ini telah bersiap untuk menjalankan operasional bandara dan telah bekerja sama dengan TAV Airports Holding, operator bandara terbesar di Turki, untuk menjadi operator di Filipina.

Pada tahun lalu, Filipina memang telah membuka penawaran kepada asing untuk menjadi pengembang dan operator di lima bandara regional senilai 2,3 miliar dolar AS. Indonesia, Mongolia, dan Nepal juga berencana menyusul langkah Filipina dengan membuka operasional bandara ke sektor swasta, termasuk pemain asing.

Kawasan Asia-Pasifik yang diprediksi menyetor 40% dari 7 miliar dalam rentang waktu 2015 hingga 2034 memang sangat memerlukan bantuan asing untuk mengakomodasi ini. Pemerintah pusat atau daerah serta perusahaan milik negara yang menjalankan operasional bandara dianggap sering kekurangan strategi untuk meningkatkan efisiensi udara.

Loading...