Pasar Saham Heboh, Rupiah Berakhir Melemah Tipis

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

JAKARTA – harus puas tertahan di teritori merah pada Selasa (2/2) sore ketika kondisi pasar saham global tengah dilanda gonjang-ganjing, yang membuat kebanyakan akhirnya mencari aset aman. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah tipis 2,5 poin atau 0,02% ke level Rp14.025 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.044 per dolar AS, terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01% dari transaksi sebelumnya di level Ro14.042 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang mampu mengungguli , termasuk dolar Singapura, yuan China, dan baht Thailand.

Menurut analisis CNBC Indonesia, investor saat ini agaknya cenderung mencari aset yang lebih aman terlebih dahulu di tengah kondisi pasar saham yang tengah tidak menentu. Investor ritel pekan lalu membuat heboh ketika mengerek saham GameStop hingga ratusan persen. Sekarang, giliran pasar komoditas yang menjadi tujuan dengan cara mengangkat perak.

“Pasar perak tidak besar, sehingga relatif mudah untuk memindahkan harga,” kata manajer portofolio Sprott Inc., Maria Smirnova, yang berfokus pada logam mulia. “Emas dan perak adalah penerima langsung dari suku bunga riil rendah hingga negatif dan penurunan mata uang. Pemulihan ekonomi pasca-COVID juga membantu harga perak.”

Dari pasar global, indeks dolar AS sempat melayang di dekat posisi tertinggi tujuh minggu pada hari Selasa, sebagian besar diuntungkan dari aksi jual euro semalam setelah lockdown virus corona mencekik pengeluaran di Benua Biru, sebelum akhirnya terpeleset ke zona merah. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,088 poin atau 0,10% ke level 90,892 pada pukul 11.16 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, euro merosot menuju titik terendah dalam 2,5 minggu pada hari Senin (1/2) setelah data menunjukkan penjualan ritel di Jerman sepanjang Desember 2020 jatuh lebih dalam daripada perkiraan, dengan benua itu masih berjuang dengan peluncuran vaksin. Dolar AS sempat menguat, bahkan saat saham global naik, melawan tren penurunan baru-baru ini ketika selera risiko meningkat.

Investor mencoba untuk mengevaluasi apakah aksi jual hampir 7% pada tahun 2020, yang didorong oleh ekspektasi pemulihan ekonomi global di tengah pengeluaran fiskal dan berlanjutnya kebijakan moneter yang sangat mudah, kemungkinan akan berlanjut. Harapan untuk pemulihan ekonomi AS mendapat dorongan karena Partai Demokrat terus mengajukan anggaran 1,9 triliun dolar AS untuk paket bantuan COVID-19.

Loading...