Pasar Ragukan Negosiasi AS-China, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - beritacenter.comRupiah - beritacenter.com

JAKARTA – Rupiah terus bergerak melemah hingga Rabu (5/12) sore, karena pasar meragukan kesepakatan mengenai penangguhan dua terbesar dunia, AS dan China. Menurut Index pada pukul 15.55 WIB, Garuda berakhir melemah tajam 111 poin atau 0,78% menuju level Rp14.403 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.383 per dolar AS, terdepresiasi 90 poin atau 0,63% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.293 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk terhadap greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,92% menghampiri rupiah, disusul won Korea Selatan yang turun 0,86%.

“Pelemahan yang dialami rupiah adalah bias dari sikap pelaku pasar keuangan yang kembali meragukan kesepakatan mengenai penangguhan pengenaan tarif impor yang memicu perang dagang antara AS dan China,” tutur pengamat dari Asosiasi Analis Efek Indonesia, Reza Priyambada, dilansir Viva. “Kondisi tersebut membuat yuan melemah, yang berimbas pada pergerakan mata uang Asia, termasuk rupiah.”

Dari pasar , indeks dolar AS mencoba bertahan di area hijau pada perdagangan hari Rabu, di tengah penurunan imbal hasil Treasury AS yang menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi perlambatan pertumbuhan tersebut. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,123 poin atau 0,13% menuju level 97,088, bangkit setelah kemarin berakhir di area merah.

Seperti diberitakan Reuters, investor khawatir terhadap inversi kurva imbal hasil Treasury AS tiga-tahun dan lima-tahun, serta antara nota dua-tahun dan lima-tahun yang membatasi pergerakan greenback. Ini adalah episode perdana dari pembalikan kurva imbal hasil Treasury AS sejak krisis keuangan, tidak termasuk utang yang sangat singkat.

“Pada fase awal inversi kurva imbal hasil, mengkhawatirkan pasar karena menimbulkan pertanyaan apakah akan ada resesi atau tidak,” papar kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Mereka bereaksi lebih agresif terhadap yang lemah daripada yang kuat. Saya pikir, dolar AS dapat berada dalam episode koreksi, terpengaruh inversi kurva yield.”

Kenaikan suku bunga telah mengatrol imbal hasil jangka pendek, bahkan ketika imbal hasil jangka panjang turun karena ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lemah. Dolar AS sebelumnya telah berada di bawah tekanan sejak Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, mengatakan bahwa suku bunga AS mendekati level netral, yang ditafsirkan sebagai sinyal perlambatan laju kenaikan suku bunga.

Loading...