Pasar Pesimis Kenaikan Fed Rate, Rupiah Kembali Ditutup Naik Tipis

ternyata masih mampu mempertahankan keunggulannya atas dolar AS pada perdagangan Selasa (20/9) ini di tengah penantian pasar jelang FOMC meeting. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda kembali ditutup menguat tipis 7 poin atau 0,05% ke level Rp13.145 per dolar AS.

Rupiah sempat dibuka melemah tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.156 per dolar AS. Namun, jeda siang, mata uang Garuda bangkit dengan menguat 19 poin atau 0,14% ke posisi Rp13.133 per dolar AS. Jelang sesi penutupan atau pukul 15.31 WIB, spot masih bertahan di zona hijau dengan menguat 11 poin atau 0,08% ke level Rp13.141 per dolar AS.

Menurut Research & Analyst , Faisyal, pesimisme pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, The Federal Reserve, menjadi faktor penting bagi keunggulan mata uang Garuda. “Sementara dari internal, peningkatan penyerapan dana juga membantu penguatan rupiah,” katanya.

Sementara itu, Ekonom , Josua Pardede, menambahkan bahwa ekspektasi pemangkasan 7 days reverse repo rate sebesar 25 basis poin turut membantu pergerakan mata uang . “Meski begitu, penguatan rupiah cenderung tipis karena pelaku pasar lebih bersikap hati-hati jelang pertemuan FOMC dan Bank of Japan,” ujarnya.

Keputusan Bank of Japan dijadwalkan disimpulkan Rabu (21/9) sore WIB, sedangkan FOMC meeting disimpulkan pada Kamis (22/9) dini hari WIB. Adapun , diperkirakan mengumumkan hasil pertemuan mereka pada Kamis sore mendatang.

Kurs rupiah sebenarnya bisa melambung jika kembali . Sayang, meski ditutup melonjak pada perdagangan Selasa dini hari, namun harga kembali turun pada siang hari akibat kelebihan stok Nigeria. Harga WTI kontrak Oktober melemah 0,19 poin atau 0,44% ke 43,11 dolar AS per barel. Di saat yang sama, patokan Eropa Brent pengiriman November juga melempem 0,14 poin atau 0,30% ke level 45,81 dolar AS per barel.

Loading...