Pasar Negara Berkembang Kembali Menggeliat Usai Brexit

brexit lucu

Pasar saham di negara berkembang kembali menggeliat usai menderita kerugian akibat efek yang ditimbulkan pada pekan lalu. Selain itu, semakin rendahnya prospek kenaikan ketika dijadwalkan bertemu pada Juli ini juga menjadi pendorong terbesar.

Pada Selasa (28/6) kemarin, indeks acuan di Thailand dan Indonesia terpantau rebound. Sementara, Indeks Straits Times di juga kembali naik pada Kamis (30/6). “Negara-negara di Tenggara kebanyakan bukan merupakan mitra dagang utama sehingga efek Brexit hanya terjadi dalam jangka pendek,” kata Analis di KDB Daewoo Securities Indonesia, Taye Shim.

“Indonesia yang paling minim terkena dampak Brexit,” sambungnya. “Selain itu, keputusan Bank Sentral yang menurunkan suku bunga pada Kamis kemarin juga memberikan sokongan.”

Namun, dorongan terbesar adalah makin rendahnya prospek kenaikan suku bunga The Fed meski petinggi dijadwalkan akan melangsungkan pertemuan pada Juli ini. Hal tersebut membuat indeks AS makin tertekan sehingga menguntungkan mayoritas mata uang Asia Tenggara. “Negara-negara berkembang bisa bernapas lega,” ujar Ekonom dari Mizuho Research Institute, Hajime Takata.

“Namun, tren ini tidak serta-merta langsung membuat pasar keluar dari krisis global,” kata Analis SMBS Nikko Securities, Makoto Noji. “Dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa masih akan memiliki efek pada perekonomian global.”

Indeks DAX Jerman masih terpantau di bawah 6 persen, sedangkan Nikkei Stock Average masih memperoleh keuntungan setengah usai turun 1286 poin akibat Brexit. Pound Inggris juga masih berada di posisi terendah sepanjang sejarah.

Loading...