Pasar Nantikan Pidato Trump, Rupiah Terkapar di Akhir Dagang

yang kembali meraih momentum penguatan jelang pidato mengenai reformasi pajak membuat rupiah tidak mampu bergerak dari zona merah sepanjang perdagangan awal pekan (27/2) ini. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, spot harus ditutup melemah 10 poin atau 0,08% ke level Rp13.341 per AS.

Tren negatif rupiah sudah berlangsung sejak awal dagang dengan 4 poin atau 0,03% ke posisi Rp13.335 per dolar AS. Jeda siang, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.343 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.11 WIB, spot masih tertahan di zona merah usai melemah 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.347 per dolar AS.

Pada perdagangan hari ini, indeks dolar AS kembali menemukan momentum penguatan di saat menunggu pidato Donald Trump, sekaligus menjadi petunjuk kebijakan reformasi pajak. Trump diduga akan memaparkan kebijakan besarnya untuk pertama kali di depan Kongres pada Selasa (28/2) waktu setempat, termasuk merinci belanja infrastruktur. The greenback terpantau bergerak naik 0,04% ke level 101,13 pada pukul 12.45 WIB.

Sebelumnya, pada Minggu (26/2) kemarin, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan bahwa Trump akan menggunakan acara tersebut untuk mengemukakan rencana pajak untuk kelas menengah, menyederhanakan sistem pajak, dan membuat perusahaan-perusahaan Amerika lebih kompetitif secara global dengan tingkat yang lebih rendah dan perubahan mendorong manufaktur AS. “Tema yang dominan sekarang adalah rencana pajak Trump dan Pemilu Perancis,” ujar Kepala Strategi Valas di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto.

Sementara itu, Bank siang tadi mematok tengah berada di level Rp13.339 per dolar AS, terdepresiasi 3 poin atau 0,02% dibandingkan perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.336 per dolar AS. Di saat yang sama, pergerakan mata uang Asia cenderung bervariasi terhadap dolar AS, dengan penguatan tertinggi dialami rupee India sebesar 0,24%, sedangkan pelemahan terdalam menghampiri peso Filipina sebesar 0,14%.

Loading...