Pasar Nantikan Pidato Trump, Rupiah Merangkak Naik ke Level Rp 13.945/USD

Rupiah - www.beritasatu.comRupiah - www.beritasatu.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Rabu (6/2), dengan penguatan sebesar 16,5 poin atau 0,12 persen ke level Rp 13.945 per dolar AS. Sebelumnya, Senin (4/2), kurs Garuda ditutup terdepresiasi 14 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp 13.962 per sebelum libur Imlek.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,22 persen menjadi 96,064. Indeks dilaporkan mencapai level tertinggi lebih dari sepekan di angka 96,12 pada awal sesi perdagangan, sedikit berubah untuk tahun ini.

Sementara itu, saat ini para pelaku tengah menantikan pidato kenegaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk kemungkinan pembaruan tentang perang perdagangan AS dengan China. Pemulihan berkelanjutan dalam selera investor terhadap risiko telah memberi tekanan terhadap mata uang safe haven seperti franc Swiss. Sedangkan dolar Australia naik usai memperingatkan risiko-risiko terhadap pertumbuhan dan menjauhi sinyal pelonggaran kebijakan eksplisit.

“Dengan bank-bank sentral di seluruh dunia dalam pola holding, dan sejumlah ketidakpastian pada perdagangan dan faktor-faktor lain, perdagangan di pasar mata uang sebagian besar bergerak dalam kisaran yang relatif ketat,” ujar Eric Viloria, Ahli Strategi Valas di Credit Agricole, seperti dilansir dari Reuters melalui Antara.

“Kisaran ini dapat berlangsung selama beberapa waktu sampai ada tindakan bank sentral yang lebih menentukan atau resolusi untuk beberapa dinamika politik, apakah itu negosiasi perdagangan atau sebaliknya,” sambungnya.

Sementara itu, Presiden Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan pada Selasa (5/2) jika akan mempertahankan suku bunga acuan di mana mereka berada hingga prospek ekonomi AS lebih jelas. Menurut Kaplan, proses itu dapat memakan waktu hingga beberapa bulan lagi.

Rupiah sebelumnya sempat tergelincir akibat data non farm payroll AS yang positif. “Rilis ini rupanya sedikit melindungi dollar AS dari sentimen The Fed yang dovish,” ucap Josua Pardede, Ekonom Bank Permata, seperti dilansir Kontan. Di samping itu, selama masih belum ada keputusan terkait negosiasi dagang AS dengan China, maka isu tersebut masih berisiko menekan rupiah.

Loading...