Pasar Nantikan Pidato Powell, Rupiah Berbalik Melemah 19 Poin

harus berbalik pada penutupan perdagangan Selasa (27/2) ini meski indeks AS juga bergerak lebih rendah, saat menanti pidato perdana Jerome Powell sebagai Gubernur yang baru. Menurut data Index pukul 15.59 WIB, Garuda memungkasi transaksi dengan pelemahan sebesar 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.679 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 8 poin atau 0,06% di posisi Rp13.660 per dolar AS pada akhir dagang Senin (26/2) kemarin. Mata uang NKRI kembali naik 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.652 ketika membuka pasar pagi tadi. Sayangnya, tren positif tersebut gagal dipertahankan sehingga spot harus menutup transaksi di teritori merah.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.650 per dolar AS, mengalami apresiasi sebesar 9 poin atau 0,07% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.659 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,23% menghampiri peso Filipina.

Dari pasar , indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada Selasa, karena menunggu beberapa data minggu ini dan testimoni Jerome Powell, yang dapat menentukan apakah masih ada ruang yang untuk pemulihan greenback dari level terendah dalam tiga tahun. Mata uang Paman Sam tersebut turun 0,044 poin atau 0,05% ke level 89,809 pada pukul 11.00 WIB.

Seperti dilansir Reuters, fokus pasar pada pekan ini terutama ditujukan untuk pidato Jerome Powell yang pertama. Powell dijadwalkan akan memberikan pidato mengenai tengah tahunan bank sentral AS mengenai kebijakan moneter dan ekonomi pada Selasa waktu setempat, sebelum US House of Representatives’ Financial Services Committee.

“Pidato Powell mungkin akan terdengar optimis terhadap prospek ekonomi, namun menekankan kesabaran dalam menilai apakah inflasi AS akan naik,” papar ahli strategi investasi untuk LGT Bank di Singapura, Roy Teo. “Dolar AS tidak mungkin mendapat suntikan besar setelah pidato Powell, karena core personal consumption spending (PCE) yang menjadi tolok ukur inflasi baru akan dirilis Kamis (1/3).”

Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan PCE inti akan meningkat 1,5% secara tahun ke tahun (year-on-year) di bulan Januari, masih jauh dari target 2% yang ditetapkan The Fed. Jika ternyata hal tersebut terjadi, merupakan rintangan bagi The Fed untuk meningkatkan proyeksi kenaikan suku bunga tahun ini pada pertemuan kebijakan di bulan Maret.

Loading...