Pasar Nantikan Kebijakan Suku Bunga BI, Rupiah Kembali Diperdagangkan Melemah

Dolar - kap-ses.comDolar - kap-ses.com

Jakarta – Kurs dibuka 22 poin atau 0,16 persen di level Rp 14.201 per AS di awal hari ini, Kamis (28/6). Sebelumnya, Rabu (27/6), menurut The Wall Street Journal pukul 15.33 WIB, rupiah turun 43 poin atau 0,30 persen menjadi Rp 14.240 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau terus menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik 0,64 persen menjadi 95,278 terhadap mata uang utama lainnya. Kurs dolar AS menguat lantaran para pelaku pasar masih mempertimbangkan berbagai data yang baru saja dirilis.

Pada Rabu (27/6), Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa pesanan baru As untuk barang-barang tahan lama yang diproduksi pada Mei 2018 mengalami penurunan sebesar 1,4 miliar dolar AS atau 0,6 persen menjadi 248,8 miliar dolar AS, sesuai dengan prediksi pasar.

Pada terpisah, Departemen Perdagangan AS juga mengungkapkan bahwa defisit perdagangan internasional barang-barang datang pada 64,8 miliar dolar AS bulan Mei 2018, turun 2,5 miliar dolar AS dari perolehan pada bulan April 2018.

Sedangkan berdasarkan laporan National Association of Realtors pada Rabu (27/6), Indeks ‘Pending Home’ atau rumah yang pengurusannya belum selesai di Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 0,5 persen menjadi 105,9 pada bulan Mei 2018 dari level 106,4 pada bulan April 2018.

Walaupun rupiah masih diliputi sentimen negatif, saat ini para investor tengah menanti kebijakan suku bunga Bank (BI) atau BI 7-day reverse repo rate (BI 7-DRR). BI dijadwalkan mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 28-29 Juni 2018. Apabila BI menaikkan suku bunga acuan, maka rupiah diperkirakan berpeluang untuk menguat.

Menurut Analis Global Kapital Investama Nizar Hilmy menilai, rupiah masih sulit menguat signifikan walaupun ada intervensi BI. “Dominasi dollar AS terlalu kuat sehingga rupiah sulit menguat,” ujarnya, seperti dilansir Kontan.

Di sisi lain, Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat walaupun rupiah kemarin tidak diperdagangkan karena bertepatan dengan Hari Libur Nasional Pilkada, sebenarnya rupiah berpotensi menguat. “Sebab mata uang lain cenderung menguat terhadap dollar AS,” kata Lana.

Loading...