Pasar Nantikan Hasil Perundingan AS-China, Rupiah Masih Betah di Zona Merah

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta pagi dibuka melemah sebesar 11,3 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 14.306,3 per di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (9/5). Kemarin, Rabu (8/5), uang Garuda berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 14.295 per USD.

Sementara itu, indeks dolar yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama cenderung datar. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar turun 0,01 persen menjadi 97,6219 terhadap enam mata uang utama lantaran para investor tengah menahan diri untuk membuat langkah besar. Mereka saat ini menanti berita definitif dari perundingan perdagangan antara Amerika Serikat dengan China yang akan dilanjutkan pada Kamis waktu setempat.

Presiden AS men-tweet jika ia akan dengan senang hati mempertahankan impor China, mendorong Beijing untuk mengancam pembalasan. Pada akhir pekan lalu China telah mundur pada hampir semua aspek rancangan perjanjian perdagangan, mengancam akan menggagalkan perundingan.

Akan tetapi, Wakil Perdana Menteri perunding Cina Liu He dikabarkan bakal datang ke Washington guna melakukan pembicaraan pada Kamis waktu setempat, dan beberapa investor menafsirkan bahwa ancaman tarif Trump hanyalah taktik negosiasi, demikian seperti dilansir Okezone.

Di sisi lain, masih mempertahankan tren pelemahannya dalam beberapa pekan terakhir ini. Hal tersebut disebabkan oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal. Menurut Ekonom Bank Central Asia David Sumual, tren pelemahan ini terjadi sejak akhir April 2019 lalu karena terganggu oleh kenaikan minyak dunia.

Akan tetapi kini pasar fokus pada mencuatnya kembali isu dagang AS-China usai Trump mengancam bakal menaikkan tarif impor produk China sebesar 25 persen atau USD 325 miliar pada Jumat mendatang. “Memanasnya dagang tentu membuat mata uang negara-negara emerging market tertekan,” jelas David, seperti dilansir Kontan.

“Peluang rupiah untuk bangkit masih sulit terwujud dalam waktu dekat. Pergerakan rupiah pun masih sangat bergantung pada perkembangan kisruh perang dagang antara AS dan China,” sambung Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan.

Loading...