Pasar Nantikan Data Tenaga Kerja AS, Rupiah Melemah di Pembukaan

Rupiah - id.carousell.comRupiah - id.carousell.com

Jakarta – Pada awal pagi hari ini, Jumat (5/7), dibuka melemah 8,3 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 14.142,8 per AS. Sebelumnya, Kamis (4/7), Garuda berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 14.135 per USD.

Pergerakan rupiah sendiri saat ini cenderung terbatas lantaran minimnya sentimen dari dalam dan luar negeri. Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang yang sempit lantaran pasar Amerika Serikat kemarin sedang libur merayakan Hari Kemerdekaan. “Karena libur, volume perdagangan di dalam negeri tipis. Rupiah pun cenderung melemah,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Amerika Serikat yang dilaporkan pada kemarin malam juga cenderung beragam. Misalnya saja ISM Non-Manufacturing PMI bulan Juni 2019 yang berada di level 55,1. Angkasa tersebut di bawah prediksi analis yang sebelumnya memasang estimasi ISM Non-Manufacturing PMI di angka 56,1.

Di samping itu, data ADP Non-Farm Employment Change, yang menunjukkan lapangan kerja di AS bulan lalu hanya bertambah 102.000 pekerjaan saja. Padahal dari hasil konsensus setidaknya memasang target ADP Non-Farm Employment Change dapat mengalami hingga 140.000 pekerja.

Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim menuturkan bahwa rupiah pun terimbas sentimen tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap China dan Eropa. “Semalam, Trump menuduh China dan Eropa memanipulasi mata uang utama dunia,” ungkap Ibrahim. Hal itu pula yang menurutnya mengakibatkan rupiah sulit untuk rebound. Saat ini pasar pun masih menantikan data terbaru dari non-farm employment change dan tingkat di AS.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta menambahkan, para pelaku pasar sedang antusias menantikan data ketenagakerjaan AS yang diproyeksikan positif. Apabila sesuai dengan ekspektasi, maka hal itu kemungkinan akan mendukung dolar AS untuk menguat.

Dari dalam negeri, pengumuman data cadangan devisa Juni 2019 yang diperkirakan turun dari USD 120,3 miliar menjadi USD 118,4 miliar juga memberi sentimen negatif untuk rupiah. “Hal ini juga ditambah dengan adanya sentimen berupa pemangkasan proyeksi pertumbuhan 2019 oleh World Bank dari 5,2% menjadi 5,1%,” ujarnya.

Loading...