Pasar Nantikan Data PDB AS, Rupiah Tertekan di Awal Dagang

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (24/4), dengan pelemahan sebesar 11 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp 14.091 per AS. Sebelumnya, Selasa (23/4), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terdepresiasi tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp 14.080 per USD.

Sementara itu, kurs dolar AS terpantau menguat terhadap enam mata uang utama. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS yang mengukur gerak the Greenback rupanya naik 0,34 persen menjadi 97,622, level tertinggi sejak Juni 2017.

Dolar AS kembali melambung setelah -pasar keuangan dibuka kembali usai libur Paskah. pun disebut-sebut lebih menyukai dolar AS menjelang rilis bruto (PDB) Amerika Serikat untuk 3 bulan pertama 2019 pada Jumat (26/4) mendatang.

Dolar AS disokong oleh data penjualan keluarga tunggal baru di Amerika Serikat yang naik mendekati level tertinggi 1,5 tahun pada Maret 2019, demikian seperti dilansir Reuters melalui Antara. Data mengikuti sentimen positif belum lama ini terkait penjualan rite dan , sehingga berhasil meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi AS.

“Hari ini tentu saja merupakan hari dolar yang baik. Dolar datang dengan kekuatan penuh dan kami telah melihat sedikit tren yang lebih rendah pada euro secara keseluruhan,” ujar Minh Trang, pedagang mata uang senior di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira berpendapat, pasar kini menanti rilis data pertumbuhan ekonomi AS kuartal I. Jika benar menguat, maka dolar AS masih akan mempertahankan posisinya di zona hijau dan menekan pergerakan rupiah. “Seperti China, outlook ekonomi AS bisa di atas ekspektasi meskipun perang dagang masih berjalan,” ungkap Bhima, seperti dilansir Kontan.

Selain itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga kembali naik 0,54 persen ke posisi USD 65,91 per barel. Kenaikan minyak ini terjadi usai AS kembali menekankan sanksi pada negara pengimpor minyak Iran. Setelah memberi kelonggaran impor minyak dari Iran untuk 8 negara pada November 2018 lalu, AS mengakhirinya mulai awal Mei. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, kenaikan harga minyak berisiko melebarkan defisit migas dan menciptakan shortfall penerimaan negara.

Loading...