Pasar Nantikan Data Cadangan Devisa, Rupiah Masih Belum Beranjak dari Zona Merah

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

Jakarta – Berdasarkan dari Bloomberg Index, nilai tukar rupiah dibuka melemah sebesar 12 poin ke posisi Rp 13.887 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (8/6). Kemarin, Kamis (7/6), Garuda berakhir terdepresiasi 22 poin atau 0,16 persen ke level Rp 13.875 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau terus melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS melemah 0,22 persen menjadi 93,408 lantaran euro melanjutkan penguatan untuk sesi keempat berturut-turut setelah (ECB) menyatakan bakal mengurangi stimulus moneter tahun ini.

Pernyataan kepala ekonom ECB, Peter Praet diulang oleh sejumlah pejabat ECB lainnya. Klaas Knot, presiden bank sentral Belanda menuturkan jika tak ada alasan untuk melanjutkan program pelonggaran kuantitatif. Sementara itu Jens Weidmann, kepala bank sentral Jerman juga menyatakan jika harapan ECB untuk mengurangi program pembelian obligasi tahun ini cukup masuk akal. Euro terpantau menguat 0,25 persen terhadap USD pada akhir perdagangan, sekaligus mencatatkan kenaikan mingguan terbesar terhadap dolar AS sejak pertengahan Februari 2018.

Dari dalam negeri, menjelang libur Lebaran, rupiah terpantau bergerak pada rentang yang cukup stabil. Pada perdagangan akhir pekan ini nilai tukar rupiah diprediksi bisa menguat. Menurut Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, masa tingginya dolar AS saat ini telah berlalu. Tetapi rupiah masih berpotensi untuk mengalami gejolak pada pekan depan ketika pertemuan FOMC digelar. “Seharusnya rupiah bisa menguat besok (hari ini) supaya awal pekan depan tidak terkoreksi terlalu dalam saat rapat The Fed,” kata Lana, seperti dilansir Kontan.

Senada, Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto juga mengatakan jika rupiah masih diliputi sentimen pertemuan The Fed pekan depan. Tetapi Andri yakin jika gerak rupiah tak terlalu signifikan karena kini kondisinya sudah priced-in. Terlebih karena hari ini (BI) akan kembali melaporkan data cadangan devisa bulan Mei 2018. “Angka cadangan devisa diproyeksikan naik, sehingga berpotensi menambah sentimen rupiah untuk besok (hari ini) hingga awal pekan depan,” tuturnya.

Loading...