Pasar Nantikan Arah Kebijakan Moneter The Fed, Rupiah Masih Terpuruk di Zona Merah

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Jakarta Garuda mengawali pagi hari ini, Rabu (26/9), dengan pelemahan sebesar 26,5 poin atau 0,18 persen ke level Rp 14.944 per dolar . Kemarin, Selasa (25/9), kurs rupiah berakhir terdepresiasi mendekati level Rp 15 ribu, tepatnya turun 52 poin atau 0,35 persen ke posisi Rp 14.918 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa (25/9), indeks dolar AS melemah 0,06 persen menjadi 94,1330 lantaran para pelaku pasar tengah mencerna sejumlah data ekonomi Amerika Serikat terbaru dan masih menanti arah keputusan kebijakan acuan Federal Reserve.

Berdasarkan data Indeks Nasional S&P Case-Shiller pada Selasa (25/9), rumah naik 6,0 persen secara tahunan pada Juli 2018, lebih lambat dari kenaikan pada Juni lalu. Sedangkan indeks 20 kota naik 5,9 persen secara tahunan, lebih rendah dari perolehan pada Juni di angka 6,4 persen. Kemudian indeks 10 kota naik 5,5 persen secara tahunan, lebih renda dari pertumbuhan sebesar 6,0 persen pada bulan sebelumnya.

Selanjutnya untuk Indeks Keyakinan Konsumen The Conference Board naik jadi 138,4 pada September 2018, tumbuh dari capaian bulan Agustus sebesar 134,7. Para investor kini juga sedang menanti hasil pertemuan kebijakan 2 hari . Dalam pertemuan tersebut, pihak bank sentral AS secara luas diprediksi akan menaikkan suku bunga acuannya pada Rabu (25/9) waktu setempat.

Rupiah sendiri kembali melemah lantaran perhatian para investor terpusat pada rapat The Fed. Di saat yang bersamaan, kenaikan harga minyak mentah juga ikut memberi sentimen negatif pada negara-negara dengan defisit berjalan.

“Mata uang Asia, khususnya negara-negara dengan utang mata uang asing yang lebih tinggi, diperkirakan akan semakin tertekan jika The Fed menjadi lebih hawkish, khususnya dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun bertahan di atas 3,05%. Harga minyak yang lebih tinggi juga diperkirakan akan memengaruhi negara-negara yang memiliki defisit transaksi berjalan di tengah impor minyak,” kata Khoon Goh, kepala riset di Australia and New Zealand Banking Group Ltd., seperti dilansir Bloomberg.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menambahkan, rupiah melemah karena didorong kekhawatiran investor terkait kebijakan moneter dari The Fed dan Bank (BI). “Kita ingin tahu forward guidance-nya seperti apa dari The Fed,” ujarnya, seperti dilansir Kontan. Oleh sebab itu, Lukman memperkirakan jika rupiah hari ini masih akan cenderung melemah. “Hari ini rupiah masih volatile, karena pasar menunggu pengumuman suku bunga,” tutupnya.

Loading...