Pasar Masih Cermati Data Ekonomi Terbaru AS, Rupiah Tergelincir di Awal Dagang

Rupiah - bangka.tribunnews.comRupiah - bangka.tribunnews.com

Jakarta Garuda mengawali pagi hari ini, Jumat (12/4), dengan pelemahan sebesar 5,5 poin atau 0,04 persen ke level Rp 14.145 per dolar . Sebelumnya, Kamis (11/4), kurs rupiah berakhir terapresiasi 13 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp 14.140 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,24 persen menjadi 97,1820 lantaran para pelaku masih mencermati ekonomi terbaru Amerika Serikat. Kemudian pada pagi hari ini, indeks dolar AS dibuka melemah 0,14 persen atau 0,132 poin ke level 97,045.

Menurut Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat pada Kamis, jumlah klaim pengangguran awal di AS turun 8.000 pekan lalu, hampir mencapai level terendah sejak Oktober 1969, demikian seperti dilansir dari Xinhua melalui iNews. Pada pekan yang berakhir 6 April, jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran turun ke angka 196.000 dari jumlah direvisi pekan sebelumnya. Hal ini sekaligus menandakan pasar tenaga kerja yang ketat di Amerika Serikat.

Di sisi lain, gerak rupiah kemarin yang cenderung berkonsolidasi menurut Fikri C. Permana Ekonom Pefindo terjadi karena memperoleh sentimen positif dari perundingan perdagangan AS dengan China yang diperkirakan akan segera mencapai kesepakatan damai. Kemudian dari dalam negeri, rupiah juga mendapat suntikan tenaga dari data neraca periode Februari 2019 yang dilaporkan surplus USD 330 juta. “Jika neraca bulan Maret 2019 kembali surplus maka harusnya rupiah akan semakin menguat,” jelas Fikri, seperti dilansir Kontan.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar menambahkan jika data inflasi AS juga kurang berhasil memuaskan pasar. “Meski kemarin data CPI AS hasilnya naik 0,4% di periode Maret atau bulanan, tetapi jika dibanding setahun lalu inflasi AS masih cenderung di bawah ekspektasi dan ini membuat rupiah menarik untuk dikoleksi,” papar Deddy. Terlebih karena mengindikasikan akan tetap menahan laju kenaikan suku bunganya pada tahun 2019 ini.

Loading...