Pasar Domestik Sepi Transaksi, Rupiah Melemah di Akhir Pekan

Sepinya di selama libur Hari Raya Idul Fitri membuat kembali mengalami koreksi meski indeks AS juga masih dalam tren negatif. Menurut Index pukul 15.57 WIB, mata uang Garuda harus melemah 18 poin atau 0,14% ke level Rp13.348 per AS pada perdagangan akhir pekan (30/6) ini.

“Sepinya perdagangan di pasar domestik selama libur Hari Raya Idul Fitri sepanjang pekan ini memang menjadi penyebab koreksi rupiah,” jelas Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk, Reny Eka Putri. “Kans koreksi tipis masih ada, terutama jika data final GDP AS kuartal satu 2017 dicatat tumbuh positif.”

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya masih terjerembab di level 95 seiring dengan berkurangnya kepercayaan pasar atas sikap yang akan menaikkan lanjutan pada tahun 2017 ini. Pada Jumat pagi pukul 08.53 WIB, greenback melemah 0,073 poin atau 0,08% ke posisi 95,555, sekaligus menjadi pelemahan keempat beruntun.

Laporan PDB AS kuartal I 2017 versi Final sebesar 1,4%, atau naik dari kuartal sebelumnya yang senilai 1,2%, juga belum cukup mengangkat laju dolar AS. Pasalnya, sentimen risiko politik lebih dominan dibandingkan data ekonomi. “Ketidakpercayaan pasar membesar karena yield obligasi tenor 10 tahun juga melemah. Pada pukul 09.04 WIB, indeks yield 10 tahun stagnan di posisi 2,2666,” jelas Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra.

Di sisi lain, nilai tukar euro justru bergerak menguat seiring rencana European Central Bank (ECB) yang mengurangi stimulus. Pada perdagangan hari ini pukul 10.05 WIB, mata uang euro menghijau 0,0001 poin atau 0,01% ke posisi 1,1442 per dolar AS, sekaligus level tertinggi sejak 4 Mei 2016. Saat ini, pasar Eropa sedang menantikan laporan data zona Benua Biru yang diumumkan pada pukul 16.00 WIB.

“Jika data inflasi zona Eropa yang dirilis sore ini dilaporkan lebih rendah dari perkiraan, euro berpeluang berbalik melemah versus dolar AS,” tambah Putu. “Sebaliknya, jika data inflasi zona Benua Biru dilaporkan lebih tinggi dari prediksi pasar, maka euro berpotensi melanjutkan tren penguatannya terhadap greenback.”

Loading...